Pendidkan Gratis ilmiah Demokratis dan Bervisi Kerakyatan

Oleh : Bachrul Tsanny 
Pada 15 November 2010

Sendiri ten menatap langit. Dari wajahnya terlhat kosong fikirannya dengan kapala menengadah ke atas ”nampaknya kau sedang bingung kawan” ujar temannya yang tiba-tiba datang “kau rupanya alimin” jawab ten. “jangan kau hanya berfikir karena sesungguhnya fikiran yang berlebihan akan membawamu ke alam khayal yang lebih dalam. Berbahaya jika kau tidak bisa kembali” sambil memberikan sebuah Koran alimin pun beranjak menghampiri pedagang rokok yang tepat di depan rumah ten. “kau punya korek?” sambil menyodorkan bungkusan rokok yang tadi di belinya di warung depan rumah ten. “aku tak habis fakir, mengapa di negeri ini banyak orang yang tidak berminat untuk sekolah, awalnya aku yakin sekali mereka itu sebetulnya beminat untuk sekolah tapi ketika aku melihat kegiatan belajar mengajar di sekolah anakku, aku melihat anak yang mampu untuk membayar sekolah pun seperti tidak niat belajar.” “bahkan mereka yang tidak mampu membayar sekolah pun enggan menerima beasiswa karena mereka sibuk dengan pekerjaannya. Padahal di usianya anak tersebut masih perlu bimbingan dari pendidikan”. Dengan wajah yang bingung alimin melihat wajah ten yang sepertinya dari perkataan sahabat yang sejak dulu bersamanya itu tengah dilemma. Padahal ten dan alimin sudah lebih dari sepuluh tahun bersama dari kuliah. Hingga kini mereka adalah orang yang dikenal tidak pernah lelah menghadapi birokrasi kampus maupun pemerintahan demi tercapainya tatanan masyarakat social yang demokratis. “coba kau baca Koran tersebut, memang miris rasanya negeri ini” ten pun membaca Koran yang diberikan alimin tadi, di dalamnya terdapat beerita tentang demonstrasi besar-besaran yang terjadi di inggris raya yang di lakukan oleh mahasiswa untuk menolak kenaikan harga pendidikan sebesar 300%. “mereka yang Negara maju dengan jumlah pendapatan rata-rata di atas rakyat Indonesia saja menolak kenaikan harga pendidikan sedangkan Indonesia yang harga pendidikanya tiap tahun naik sepertinya lebih banyak warga yang diam” ten terdiam mendengar perkatan alimin yang justru membuatnya semakin bertanya-tanya. Ten merogoh kantong celana dan diambilnya sebuah korek gas untuk di berikan kepada alimin. Setelah merokok dan sedikit berbincang ringan alimin pulang kembali ke rumahnya yang memang tidak begitu jauh dari rumah ten alimin memang sering datang tanpa memberitahu untuk main ke rumah ten
Esok hari mereka berdua memutuskan untuk pergi ke daerah tanah abang. Mereka menaiki motor berboncengan dari rumah ten yang berada di daerah bekasi. Ketika melewati bundaran HI ten tertarik dengan kumpulan orang yang berada di sekitar bundaran tersebut “min coba lihat aksi di sana aku penasaran dengan issue yang mereka bawakan” alimin yang mengendarai motor memarkir motornya di sekitar pinggir jalan. Memang tempat itu sering di gunakan oleh massa aksi untuk memarkir kendaraannya terkecuali jika ada aksi besar seperti mayday dll. “lawan kapitalisasi pendidikan” ujar seorang massa aksi yang nampaknya menjadi dinamisator lapangan pada aksi itu”. “lihat spanduk yang di bawa ”spanduk tersebut bertuliskan pendidikan gratis ilmiah demokratis serta bervisi kerakyatan. setelah membaca selebaran yang di dapat dari masa aksi alimin tersenyum dan menjelaskan kepada ten tentang pertanyaannya kemarin bahwa sesungguhnya pendidikan gratis ilmiah dan demokratislah yang akan membuat minat warga untuk menambah ilmu menjadi besar, dan hal itu akan bersinergis dengan tatanan masyarakat yang demokratis secara social serta menjawab permasalahan kemiskinan bangsa.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.