Perkembangan Dunia ketiga

Populasi terbesar di dunia ketiga menggantungkan


hidup pada pertenian dengan metode kuno. Sebuah keluarga besar yang terdiri dari bibi, paman, keponakan dan kakek-nenek bersandar hidup pada produk pertanian dalam skala kecil
Kaum perempuan mempunyai peran yang menentukan dalam ekonomi. Bukan hanya karena jam kerja yang panjang baik di rumah maupun di ladang, tapi karena perempuan menghasilkan anak yang ikut memikul beban ekonomi dan menjadi jaminan masa tua. Mereka menikah di usia muda dan melahirkan anak-anak sebanyak mungkin
Perempuan dinilai dari berapa jumlah anak yang bisa mereka hasilkan. Perempuan yang tidak subur mempunyai aib dan bencana bagi perekonomian. Juga sering dijadikan alasan untuk sebuah perceraian
Karena peran produksinya, ikatan keluarga terutama terhadap perempuan sangat kuat. Terlebih di daerah pedesaan dengan taraf ekonomi rendah, petani perempuan mendapat perlakuan semena-mena. Secara individu mereka tidak memiliki hak-hak sosial dan hukum dan kadang tidak diperlakukan secara manusiawi. Secara total hidup mereka berada dibawah dominasi laki-laki dalam keluarganya
Dibanyak daerah, dalam berbagai kasus, pembagian konsumsi dalam keluarga dilakukan dengan mendahulukan anggota laki-laki sehingga tidak jarang anak-anak perempuan mendapat porsi yang lebih sedikit dan kurang gizi. Angka buta huruf di kalangan perempuan mencapai nilai 100%. Hal ini merupakan pembunuhan terhadap perempuan baik secara langsung maupun tidak langsung dengan cara mengabaikan mereka
Daerah pedesaan terkena dampak akibat bergabungnya negara-negara dalam dunia kapitalis. Dengan adanya inflasi dan kalah dalam bersaing dengan pertanian yang menggunakan metode produksi yang lebih maju, terjadi gelombang perpindahan ke kota. Biasanya kaum laki-laki yang lebih dulu meninggalkan keluarganya untuk mencoba keluar dari kemiskinan. Namun kadang, ada juga kaum perempuan yang mencari kerja di daerah industri sebagai pekerja perempuan yang mendapat eksploitasi besar-besaran dan upah rendah. Bahkan ada yang kemudian direkrut menjadi pelacur.
Kesulitan dalam mencari kerja telah mendorong jutaan pekerja untuk meninggalkan negri kelahirannya untuk bekerja di negara-negara kaya penghasil minyak seperti Arab dan Teluk Persia. Jika beruntung mereka bisa mendapat pekerjaan walau dalam kondisi penghisapan yang menyedihkan
Tradisi terbelakang dan isolasi daerah pedesaan mulai berubah dengan perpindahan ke kota dan pengaruh dari media massa seperti radio dan televisi
Pengaruh urbanisasi
Dengan berpindahnya ke kota dan kondisi kehidupan yang baru, terjadi perubahan pandangan kaum buruh terhadap norma-norma tradisional dan mitos atas perempuan
Peran keluarga sebagai unit produksi mulai menghilang di kota. Setiap anggota keluarga bertanggungjawab terhadap diri sendiri sebagai tenaga kerja upahan. Situasi pekerjaan yang berat, kurangnya subsidi kesejahteraan sosial dan situasi keuangan sebagai semi-proletar perkotaan menyebabkan mereka harus bersaing dengan kerabat sendiri, tanggungjawab menghidupi keluarga juga terdiri dari paman, bibi, saudara sepupu, kakak, adik dan anak-anak selain ibu, ayah dan anak-anak. Unit keluarga makin terbatas diantara kelas menengah perkotaan, sektor yang lebih mapan dari kelas pekerja
Kaum perempuan mendapat kesempatan lebih besar untuk mengenyam pendidikan, memperluas kontak sosial dan kemandirian secara ekonomi setelah pindah ke kota. Kapitalisme yang berkepentingan untuk menarik perempuan keluar dari isolasi keluarga mulai terbentur dengan tradisi lama tentang peran perempuan dalam masyarakat
Kaum perempuan mulai mendobrak tradisi dan pandangan kuno dengan bekerja di industri dan sektor jasa. Bahkan terjamin dalam mengambil pendidikan profesi sebagai guru atau perawat, yang sebenarnya kontradiktif dengan perilaku tradisional bahkan juga dalam pandangan perempuan yang tidak bekerja
Realita ini memunculkan gugatan atas mitos inferioritas perempuan, mengubah subordinasi yang sudah lama mereka hadapi
Bahkan bagi perempuan yang tidak berpendidikan atau tidak bekerja diluar rumah, kondisi perkotaan menyediakan kemudahan untuk menghilangkan tekanan dari penjara rumahtangga. Hal ini juga dipengaruhi oleh media massa, bersinggungan dengan kehidupan politik dan perjuangan, serta tersedianya peralatan rumahtangga modern seperti laundri dan sebagainya
Partisipasi angkatan kerja
Kaum perempuan di negara-negara belum berkembang biasanya mendapat upah lebih rendah daripada di negara-negara imperialis. Bervariasi antara 8 – 20% berbeda dengan negara-negara kapitalis dimana perempuan bisa mendapat upah hingga 40%. Namun pertumbuhan angkatan kerja perempuan terus terjadi di kedua jenis negara tersebut
Proporsi tertinggi pekerja perempuan adalah kerja-kerja domestik, kemudian pertanian dan kerja borongan di rumah yang tidak membutuhkan keahlian, mempunyai upah rendah dan tidak memiliki jaminan keamanan secara hukum dan sebagainya. Rata-rata upah pekerja perempuan 1/3 – ½ upah pekerja laki-laki. Walaupun di negara-negara kapitalis, kaum perempuan mengenyam pendidikan dan memiliki keahlian namun mereka tetap didorong untuk bekerja pada kerja-kerja yang bersifat ‘keperempuanan’ seperti mengajar dan perawat
Kaum perempuan banyak tersebar di industri-industri ringan yang banyak bermunculan di negara-negara industri kolonial seperti tekstil, garmen, makanan kalengan dan suku cadang. Hal ini menunjukkan bahwa walaupun kecil jumlahnya namun pekerja perempuan mempunyai peran strategis yang penting
Imperialis melihat pentingnya mempekerjakan perempuan karena mereka adalah penghasil tenaga kerja murah dan secara logika kapitalis memandang bahwa upah murah akan memecah belah dan melemahkan kelas pekerja, dan juga menjaga stabilitas skala upah. Proses akumulasi imperialis tidak dapat dipahami tanpa menjelaskan peran eksploitasi mereka terhadap pekerja perempuan di negara-negara belum berkembang
Angka pengangguran mencapai tingkat yang mengkhawatirkan dan kaum perempuan sering harus bertanggungjawab atas pendapatan keluarga. Demi memenuhi kebutuhan keluarga, kaum perempuan terpaksa bekerja sebagai penjual kerajinan tangan atau makanan di jalan atau menjadi pencuci baju
Inflasi besar-besaran di kota menyebabkan ibu-ibu rumahtangga harus menelusuri pasar demi pasar untuk mencari bahan makanan dengan harga terendah, selain itu mengurangi jatah makan dirinya agar dapat memberikan jatah tersebut pada anak-anaknya. Kerja-kerja domestik lebih banyak dilakukan di daerah pinggiran dan kumuh yang tidak dialiri listrik, air, fasilitas kesehatan dan sekolah. Pengangguran endermis diperburuk dengan adanya pelacuran, alkohol dan kecanduan obat yang kerap melahirkan tindak kekerasan terhadap perempuan
Situasi kaum perempuan di daerah pedesaan bahkan lebih buruk lagi. Dengan tidak tersedianya pelayanan umum membuat mereka harus mengerjakan tugas-tugas domestik dalam kondisi yang brutal. Kerja-kerja domestik juga meliputi memberi makan ternak dan menyiapkan hasil produksi untuk dijual ke pasar. Kaum perempuan harus menempuh jarak yang jauh untuk mendapatkan air dan kayu. Petani perempuan dipaksa untuk menjadi petani penggarap atau buruh harian
Kurangnya hak-hak dasar
Pada sekitar abad 19 dan 20-an kaum perempuan di negara-negara kapitalis maju dapat memenangkan beberapa hak demokratik yang paling dasar namun di banyak negara masih belum terjadi. Bahkan sejumlah negara masih mempertahankan hukum yang menempatkan perempuan dibawah kontrol suaminya, seperti ijin suami bagi istri yang bekerja, hukum yang mengesahkan suami untuk mengontrol gaji istrinya, dan hukum yang memberi hak bagi suami untuk memiliki anak-anaknya dan mengontrol tempat tinggal istrinya. Di beberapa negara masih terdapat penjualan perempuan dengan selubung pernikahan. Juga hukuman hingga pembunuhan bagi perempuan yang dianggap menghina ‘kehormatan’ suami
Pada sebagian negara sudah berlaku hukum yang menjamin hak-hak perempuan namun masih belum dapat dinikmati sebagian besar perempuan karena kondisi keterbelakangan mereka seperti kemiskinan, buta huruf, kekurangan gizi, ketergantungan ekonomi dan tradisi yang terbelakang. Imperialisme turut mendistorsi perkembangan negara-negara ini dan menjadi penghalang atas hak-hak demokratik yang paling dasar untuk perempuan
Demi mempertahankan keterbelakangan ekonomi di negara-negara kolonial dan semi kolonial, imperialisme menggunakan hirarki agama sehingga kekuasaan dan pengaruh agama sangat kuat. Bahkan di beberapa negara tidak terdapat pemisahan antara institusi agama dan negara, dan antara budaya dan dogma agama. Seperti di India yang menggunakan sistem kasta, sanksi diberikan berdasarkan ajaran agama Hindu. Di beberapa negara Islam, aktivitas umum diperketat, terdapat pemisahan antara perempuan dan laki-laki dan tradisi jilbab bagi perempuan diciptakan untuk menjauhkan perempuan dari publik sementara negara Khatolik menolak hak perceraian
Dibawah dominasi imperialis, kekerasan terhadap perempuan yang sudah menyatu dalam kehidupan ekonomi, sosial dan degradasi sex dalam setiap tahap perkembangan masyarakat kelas ditonjokan oleh kontradiksi dalam mengahasilkan keturunan. Meluasnya partisipasi perempuan dalam masyarakat serta bertambahnya akses pada pendidikan dan pekerjaan telah memberikan kesempatan bagi kaum perempuan untuk mendobrak tradisi kuno dalam kehidupan publik
Namun semua usaha kaum perempuan untuk mendobrak tradisi lama sering mendapat reaksi keras dari kerabat laki-laki berupa pemasungan, pemukulan, hingga pembunuhan. Walaupun ada hukum yang mengatur sanksi atas kekerasan terhadap perempuan, namun prakteknya seringkali pelaku kekerasan bisa lolos dari jeratan hukum
Kesempatan kaum perempuan untuk mengenyam pendidikan di negara-negara kolonial dan semi-kolonial lebih dibatasi dibandingkan di negara-negara kapitalis maju. Hal ini ditunjukkan dengan tingginya angka buta huruf di kalangan perempuan. Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin besar jurang pemisah antara laki-laki dan perempuan dalam hal kesempatan belajar
Sistem pendidikan di negara-negara kolonial dan semi-kolonial -bahkan lebih menyolok daripada negara-negara imperialis- diselenggarakan untuk memperkuat posisi perempuan sebagai ibu-istri-penjaga rumah dan menjauhkan mereka dari kehidupan sosial. Sekolah khusus perempuan secara bervariasi menerima anggaran yang lebih kecil, jumlah guru lebih sedikit dan fasilitas yang buruk. Setelah fasilitas pendidikan bersama disediakan, anak-anak perempuan tetap didorong untuk mengikuti kursus memasak, menjahit dan pekerjaan rumah
Bagaimanapun juga untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga kerja yang lebih terlatih, akhirnya pasar mampu mendesakkan kepentingan agar perempuan mendapat pendidikan yang lebih tinggi seperti tehnisi
Hak-hak reproduksi dan pengendalian kelahiran
Kaum perempuan di negara-negara berkembang tidak memiliki kontrol atas fungsi reproduksinya dibandingkan dengan perempuan di negara-negara imperialis. Kaum perempuan tidak memiliki akses terhadap informasi yang lebih ilmiah mengenai reproduksi atau sex akibat kecilnya kesempatan pendidikan dan kuatnya pengaruh agama
Secara ekonomi dan sosial kaum perempuan ditekan untuk melahirkan lebih banyak anak. Sedangkan pengendalian kelahiran biasanya dilakukan untuk memenuhi kepentingan imperialisme dalam mengontrol populasi secara rasis. Hal ini biasanya dilakukan dengan memaksa sterilisasi pada kaum perempuan usia subur seperti di Puerto Rico dan kelompok minoritas suku Indian di Bolivia
Walaupun sterilisasi tidak menjadi kebijakan pemerintah namun hal ini merupakan penghalang bagi kaum perempuan untuk memperoleh hak dalam mengontrol tubuh dan kehidupan mereka sendiri
Bumi pun memiliki batas untuk menampung populasi, namun pengalaman di negara-negara maju menunjukkan bahwa angka kelahiran akan menurun apabila kaum perempuan memiliki kontrol atas tubuh mereka dan mandiri secara ekonomi, kehidupan sosial, ekonomi, kesetaraan politik dan pendidikan yang cukup serta kebebasan untuk memilih lebih dibutuhkan ketimbang sejumlah kebijakan yang disertai paksaan dan kekerasan dalam menurunkan jumlah populasi
Perempuan di negara-negara berkembang telah menjadi binatang percobaan dengan dipaksakannya program pengendalian kelahiran dan obat-obatan. Kaum perempuan di dunia ketiga terpaksa harus melakukan aborsi secara ilegal yang tidak terjamin kebersihannya dan bisa menyebabkan kematian. Dan ini semua karena perempuan tidak memiliki hak untuk memilih
Anarkisme kapitalis dalam memperbesar profit telah memperdalam krisis ekologi global dan kemiskinan di dunia ketiga, usaha untuk mengontrol populasi akan semakin besar dan kasus seperti di Puerto Rico akan dialami oleh belahan dunia yang lain. Dan tentu saja imperialisme akan mengkambinghitamkan ‘ledakan penduduk’ atas bencana alam dan krisis ekonomi
Dunia ketiga juga harus menghadapi masalah rasisme dan seksisme yang dibawa oleh kebudayaan asing melalui iklan, film dan berbagai bentuk propaganda lainnya. Kosmetika sebagai standar ‘kecantikan’ perempuan tidak hanya menindas perempuan di Eropa dan Amerika Utara tetapi juga perempuan di dunia ketiga
Standar sexual di dunia ketiga lebih ketat daripada negara-negara imperialis, hal ini juga karena adanya pengaruh kuat dari agama. Di satu sisi perempuan dituntut untuk tidak mengekspresikan hasrat seksual dan menjaga keperawanan, seorang perempuan yang didapati sudah tidak perawan ketika dinikahi boleh diceraikan oleh suaminya. Tapi di sisi lain, perempuan harus memberi kepuasan sezual pada suaminya, kepuasan juga sering menjadi alasan perceraian. Bahkan tindakan brutal terhadap perempuan dilindungi oleh hukum tradisional. Banyak terjadi praktek poligami dan penyunatan terhadap anak-anak perempuan
Keterbelakangan dalam sexualitas juga bisa dilihat pada penindasan terhadap homoseksual baik gay maupun lesbian
Langkah ke depan
Kapitalisme terus mengembangkan sayap dalam hubungan sosial dan ekonomi di negara-negara kolonial dan pra kapitalis dalam berbagai bentuk. Hal ini berarti perjuangan untuk bebas dari penindasan dan penghisapan harus dilakukan dalam berbagai tuntutan
Perjuangan melawan dominasi imperialis dan eksploitasi kapitalis sering dimulai dengan gugatan pada kedaulatan nasional, land reform dan tuntutan-tuntutan demokratik dasar lainnya. Juga termasuk didalamnya adalah hak-hak dasar seperti kesetaraan dalam sosial, ekonomi dan politik untuk perempuan. Isu-isu yang terkait adalah kenaikan harga, fasilitas kesehatan, pendidikan dan perumahan. Selain itu juga isu yang dibawa oleh gerkan perempuan di negara kapitalis maju seperti pusat penitipan anak, fasilitas medis yang memungkinkan perempuan untuk mengontrol kehidupan reproduksi mereka, akses pada pekerjaan dan pendidikan
Tapi perjuangan ini tidak akan berhasil tanpa adanya mobilisasi kelas pekerja sebagai kekuatan sosial yang menjadi pemimpin perjuangan, termasuk mobilisasi perempuan
Di negara-negara berkembang dimana kapitalisme dan kelas penguasa kapitalis relatif lemah, biasanya tidak ada kebebasan sipil dan represi politik lebih besar. Saat perjuangan dimulai-baik perempuan maupun sektor tertindas lainnya- akan dihadapi secara represi dan perjuangan pembebasan politik membutuhkan hak-hak untuk menyelenggarakan pertemuan, mendirikan organisasi, memiliki koran dan alat propaganda lainnya dan untuk demonstrasi, oleh karena itu perjuangan pembebasan perempuan tidak terpisah dari perjuangan secara keseluruhan untuk kebebasan politik
Di negara-negara kolonial dan semi-kolonial, keikutsertaan perempuan dalam perjuangan sosial dan politik ditunjukkan dengan bertambahnya jumlah perempuan yang menjadi tahanan politik. Di penjara kaum perempuan mengalami penyiksaan secara brutal. Perjuangan untuk menuntut pembebasan tahanan politik yang mengekspos buruknya kondisi perempuan memberi arti penting bagi gerakan pembebasan perempuan. Kaum perempuan semakin menjadi pusat perhatian dan diharapkan menjadi pemimpin perjuangan untuk mengkampanyekan penculikan, pembunuhan massal serta orang-orang ‘hilang’
Perjuangan pembebasan nasional
Perjuangan pembebasan perempuan tidak terpisah dari perjuangan pembebasan nasional karena tugas mendesak bagi seluruh kelas tertindas termasuk perempuan adalah menghancurkan dominasi kapitalis seperti yang ditunjukkan oleh Nicaragua dan El Salvador
Saat bergabung dengan gerakan pembebasan nasional, kaum perempuan menjadi lebih politis. Untuk memenangkan perjuangan dibutuhkan peran yang lebih besar dari kaum perempuan. Kaum perempuan mulai mendobrak larangan tradisi lama dengan menempati posisi pemimpin, pejuang, organiser dan pemikir politik. Kontradiksi ini menstimulasikan perlawanan terhadap penindasan sex, seperti juga tuntutan kesetaraan dalam gerakan revolusioner
Perjuangan kaum perempuan di Vietnam, Algeria, Cuba, Palestina, Angola, Mozambique dan tempat-tempat lain untuk mengakhiri bentuk penindasan yang paling brutal terkait dengan perkembangan perjuangan anti imperialis
Keikutsertaan kaum perempuan dalam perjuangan pembebasan nasional juga telah mentransformasikan kesadaran kaum laki-laki tentang kemampuan dan peran perempuan. Dalam proses perjuangan melawan penindasan dan penghisapan, kaum laki-laki justru dapat lebih peka terhadap penindasan perempuan, menyadari kebutuhan untuk melawannya dan pentingnya menjadikan sebagai sekutu perjuangan
Sejak kebangkitan perjuangan kolonial di awal abad ini, kaum perempuan turut serta dalam sentimen anti imperialis. Namun kaum perempuan belum melakukan tuntutan yang spesifik pada isu perempuan. Bagaimanapun juga perkembangan sistem kapitalisme sejak PD II yang telah mempertajam kontradiksi ekonomi, sosial dn politik semakin mendorong kaum perempuan untuk mengangkat isu-isu perempuan
Dimulailah krisis kapitalisme yang ditandai oleh krisis internasional antara tahun 1974-1975 yang berdampak pada negara-negara terbelakang. Krisis hutang negara-negara dunia ketiga adalah salahsatu usaha imperialis untuk membebankan krisis pada negara-negara tersebut. Kum perempuan turut menjadi korban dengan adanya pemotongan subsidi kesehatan dan pendidikan dan meningkatnya harga barang
Kontradiksi ini memberi pengaruh pada kesadaran perempuan yang diperkuat oleh gerakan pembebasan perempuan internasional yang menjadi inspirasi bagi perempuan di seluruh dunia untuk mempopulerkan tuntutan mereka. Peran serta perempuan dapat dilihat pada dekade 1975-1985. Pada konferensi besar yang pertama di Mexico pada tahun 1975 sebagian besar pesertanya adalah perempuan dari negara-negara industri. Sementara konferensi terakhir di Harare pada tahun 1985 memfokuskan pada situasi perempuan di dunia ketiga
Walaupun banyak contoh-contoh yang dapat diberikan untuk memperlihatkan hasil yang dicapai oleh gerakan pembebasan juga mengenai kekerasan dan serangan militer yang dilakukan imperialisme. Vietnam, Cuba dan Nicaragua telah menjadi simbol perjuangan. Untuk menggulingkan imperialisme. Memberikan contoh yang lebih hidup tentang bagaimana kekayaan sebuah negara yang diperuntukkan bagi golongan mayoritas, kontrol yang dilakukan oleh golongan mayoritas dan konsekuensinya bagi perempuan. Contoh nyata tentang bagaimana perubahan dapat dilakukan dan bukan sekedar utopia abstrak. Seperti juga revolusi Rusia dan Cina, revolusi ini juga menjadi indikasi keberhasilan yang bisa di raih di negara-negara dengan keterbelakangan ekonomi dan mayoritas penduduk petani
Revolusi Cuba
Revolusi Cuba lebih memiliki kesadaran untuk melakukan perjuangan melawan penindasan perempuan bahkan sejak awal revolusi Rusia
Setelah memenangkan revolusi sosialis, Cuba mulai memperbaiki sistem pelayanan pendidikan dan kesehatan dan membuka lapangan kerja seluasnya. Federasi perempuan Kuba didirikan sehingga kesetaraan perempuan bukan sekedar slogan namun terstruktur dimana perempuan dapat mengorganisir perjuangan untuk kesetaraan. Perjuangan untuk melawan sikap sexist telah menghasilkan undang-undang yang mengatur laki-laki untuk ikut mengambil separo kerja-kerja domestik
Saat ini kaum perempuan Kuba telah menduduki berbagai posisi di bidang ekonomi, 54% dari pekerjaan tehnis dipegang oleh perempuan. Kaum perempuan juga mendominasi dunia pendidikan dan medis dari posisi terendah hingga posisi atas. Dan hal ini didapat dengan melakukan kompetisi dengan laki-laki. Ratusan pusat penitipan anak didirikan
Kaum perempuan memegang peranan dalam mendapatkan bantuan internasional bagi Kuba, baik yang bersifat kemanusiaan hingga militer. Semakin bertambah jumlah perempuan yang menduduki posisi publik di pemerintahan dan diplomasi
Kaum perempuan mengalami kemajuan di negara kepulauan yang berjarak hanya 140 Km dari Amerika. Kuba adalah negara miskin, hal ini lebih banyak karena selama lebih dari 30 tahun mengalami blokade ekonomi oleh Amerika sehingga Kuba tergantung pada Uni Sovyet dan Eropa Timur untuk mendapat bahan bakar dan mesin. Agresi Amerika terus berlanjut dengan berdirinya pangkalan militer Amerika di Teluk Guantanamo
Setelah kejatuhan blok Sovyet, Kuba mengalami krisis ekonomi. Kuba kehilangan akses terhadap negara yang menjadi partnerdagang dan lebih menderita akibat blokade ekonomi yang melarang tiap negara untukmelakukan perdagangan dengan Kuba. Namun kesulitan ekonomi ditanggung bersama oleh rakyat Kuba dan program penyetaraan perempuan terus berjalan
Diluar masalah ini, Kuba telah menjadi contoh bagi rakyat dunia ketiga dan kaum miskin di Amerika latin selama lebih dari 30 tahun
Pengalaman Sandinista di Nicaragua
Revolusi Sandinista di Nicaragua belajar dari revolusi Kuba dan pengaruh dari gelombang kedua perjuangan pembebasan perempuan di seluruh dunia. Perempuan Nicaragua tergabung dalam organisasi perempuan AMPRONAC yang turut memobilisir perempuan dalam perjuangan revolusioner untuk menggulingkan kediktatoran Somoza
Di tahun 1979 setelah berhasil menggulingkan kediktatoran Somoza yang didukung oleh Amerika, AMPRONAC mengubah nama menjadi AMNLAE yang memiliki 2 tujuan-berjuang untuk mempertahankan revolusi dan memperjuangkan pembebasan perempuan dalam revolusi-
Di tahun 1977 hanya 29% kaum perempuan yang bekerja. Di akhir tahun 80-an, 37% dari pekerja industri adalah perempuan, 35% dari pekerja pertanian dan 44% dari gerakan koperasi. Kaum perempuan juga mulai masuk di dinas kemiliteran. 80% dari penjaga malam revolusioner dan 70% brigade pertahanan sipil adalah perempuan. Kaum perempuan menduduki 31% dari kepemimpinan di pemerintahan Sandinista. Mereka juga mendapat training tehnik dan pendidikan lanjutan ketiga. Pusat penitipan anak mulai dibangun di pedesaan dan kota
Meningkatnya partisipasi perempuan dalam politik dan kehidupan produksi di Nicaragua juga dipacu oleh perjuangan melawan Amerika setelah perang usai. Tetapi dalam periode ini kemajuan yang dicapai bukan hanya secara ekonomi namun juga perubahan dalam perlakuan terhadap perempuan. Kesetaraan sipil mulai dijalankan, penggunaan tubuh perempuan dalam iklan dilarang, hukum perceraian diamandemen sehingga perceraian dapat dilakukan secara sepihak, dan hukum yang menjamin agar kedua orangtua turut bertangungjawab atas penyediaan pangan, medis, rumah untuk anak-anak baik dari maupun diluar perkawinan
Terdapat sebuah periode di pertengahan 80-an selama perang dimana tuntutan perempuan diabaikan, namun dalam 2 tahun keadaan berbalik seiring dengan meningkatnya peran AMNLAE. Kaum perempuan memasuki dewan konstitusi dimana terdapat diskusi mengenai konstitusi baru. Kaum perempuan mulai mengorganisir serikat buruh dan organisasi massa lainnya. Aktifitas ini untuk menghancurkan penghalang atas meningkatnya partisipasi perempuan
Hal ini menimbulkan kontradiksi antara ‘lingkungan pribadi’-keluarga berencana, aborsi, kekerasan domestik, kekerasan sexual di tempat kerja, perlawanan terhadap machismo- dengan lingkungan publik untuk pertama kalinya dalam sejarah Nicaragua. Tuntutan ini kemudian disahkan dengan diratifikasinya konstitusi baru. Pusat biro hukum khusus didirikan untuk memastikan bahwa hukum-hukum ini dijalankan. Biro hukum ini membantu kaum perempuan dalam mengatasi problem mendesak, memberi pendidikan mengenai hak-hak mereka dan menyediakan konseling. Mereka juga mengkampanyekan kekerasan terhadap perempuan. Hal yang sama juga terjadi didalam serikat buruh untuk perbaikan kondisi perempuan, bahkan pendidikan sex dan keluarga berencana di tempat kerja
Dalam pemilu 1990 di Nicaragua, Dewan Nasional berencana untuk merancang hukum tentang kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak serta menghapus undang-undang yang menganggap aborsi sebagai tindakan kriminal. Sejak FSLN kalah dalam pemilu, AMNLAE harus berjuang untuk mempertahankan keberhasilan yang telah dicapai perempuan karena pemerintahan Presiden Violetta Chamorro yang didukung Amerika telah bertekad untuk mengembalikan posisi perempuan ke rumah dibawah slogan Patria Potestad-‘hak suami’ untuk ‘mengontrol’ keluarganya. Dimulailah pemecatan terhadap pekerja perempuan. Di tahun 1992 pemerintahan Chamorro mengadopsi hukum anti-homoseksual yang paling represif di Amerika latin
Berbagai diskusi dan evaluasi digelar yang membahas tentang peran AMNLAE, hubungannya dengan FSLN dan cara untuk membuktikan peran organisasi perempuan dalam memperjuangkan hak-haknya. Keberhasilan yang dicapai oleh kaum perempuan Nicaragua selama periode 10 tahun pada pemerintahan revolusioner dibawah kepemimpinan FSLN telah menjadi contoh bagi kaum perempuan di negara-negara belum berkembang lainnya.
Di beberapa negara seperti Filipina, Palestina dan Indonesia, kaum perempuan mengorganisir diri dengan mengambil contoh pengalaman di Nicaragua. Organisasi perempuan bergabung dengan mobilisasi kelas tertindas lainnya
Pengalaman Nicaragua sebagai’revolusi dalam revolusi’ semakin menjadi contoh bagi menyatunya perjuangan perempuan dengan kelas tertindas lainnya. Maksud dan tujuan dari tahun-tahun awal revolusi Rusia semakin diyakini sebagai langkah maju meskipun bentuk-bentuk organisasi sudah berkembang sejak saat itu

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.