Perkembangan Gegarakan Perempuan

Kelahiran gerakan pembebasan perempuan merefleksikan



perubahan struktural dalam kehidupan sebagian besar perempuan. Gerakan feminis berhasil membangun karakter sosial atas situasi kaum perempuan dan mendapatkan pengakuan gender perempuan. Walaupun sudah banyak terjadi perubahan dan terdapat kesetaraan namun penindasan, diskriminasi dan subordinasi terhadap perempuan masih tetap berlanjut
Banyak ide-ide dan isu-isu gerakan yang sudah diterima oleh mayoritas masyarakat sehingga kelas penguasa di negara-negara kapitalis meyakinkan perempuan bahwa mereka berada pada era ‘post-feminis’ dimana tidak dibutuhkan lagi gerakan pembebasan perempuan karena kesetaraan telah dicapai
Namun realitanya berbeda, kaum perempuan di negara-negara kapitalis maju tetap mengalami penindasan terlebih dengan adanya krisis ekonomi dan sosial yang melanda kapitalisme
Di negara-negara kapitalis maju dimana gerakan muncul untuk pertamakalinya, tahun 1970 merupakan periode dimana berbagai arus gerakan bersatu dalam aksi massa dalam aliansi antara serikat buruh dan gerakan progresif lainnya baik dalam skala nasional maupun internasional untuk menuntut hak-hak perempuan seperti aborsi. Keberhasilan yang dicapai kemudian justru memperlambat aktifitas ini
Dalam periode yang sama, gerakan terpengaruh oleh kepemimpinan tradisional gerakan kelas pekerja yang berubah menjadi kanan dengan adanya program penghematan yang dilancarkan oleh kaum borjuis. Serikat buruh menerima program penghematan dan ini menyebabkan melemahnya perjuangan buruh dan gerakan sosial lainnya
Perpecahan di tubuh organisasi di negara-negara dunia pertama
Di awal 1980-an terdapat penurunan signifikan dalam gerakan feminis. Hal ini disebabkan oleh:
- Banyak aktifis yang membangun karir di institusi pemerintah dan atau aktifitas pelayanan sosial
- Serikat buruh dan struktur manager di perusahaan mulai diberikan pada perempuan
- Banyak feminis yang mulai beralih pada isu-isu sosial seperti perdamaian dan lingkungan
Namun organisasi perempuan tetap berdiri walaupun hanya memfokuskan pada satu kegiatan konkrit. Saat ini, dengan pengecualian Spanyol, Canada dan National organisation for Women (NOW), tidak ada struktur koordinasi tingkat nasional antara kelompok-kelompok perempuan. Hal ini memperlemah gerakan dan menjadikan perjuangan bersifat sektoral
Di Australia, di kota-kota besar, pertemuan gerakn pembebasan perempuan secara menyeluruh terhenti. Pusat gerakan pembebasan perempuan menjadi wadah bagi bertemunya kelompok yang berbeda. International Women’s day menjadi satu-satunya moment bagi bertemunya seluruh kelompok feminis. Bahkan konferensi perempuan nasional, seperti konferensi perempuan dan konferensi buruh yang membahas berbagai isu, terhenti sejak awal 1980-an
Walaupun selama dekade terakhir terdapat penurunan ‘pengorganisiran feminism’ tidak berarti bahwa radikalisasi perempuan berhenti. Sebaliknya, lebih luas lagi kaum perempuan memperjuangkan hak mereka dalam bidang yang berbeda-perjuangan kebudayaan untuk melawan image tentang perempuan di media dan dalam pendidikan. Perjuangan agama untuk kesetaraan di gereja, kaum perempuan berjuang untuk melawan kekerasan domestik, perkawinan sedarah dan pengungsi. Perjuangan untuk kemandirian ekonomi-upah yang sama, untuk kesempatan kerja yang lebih besar dan training, untuk fasilitas penitipan anak dan lain-lain
Kaum perempuan juga membangun organisasi baru dan mengembangkan koalisi sebagai pertahanan atas serangan terhadap hak-hak mereka. Juga untuk kepentingan gerakan perempuan di masa depan
Perdebatan yang mewarnai gerakan pada awal 1990-an adalah tentang bagaimana menarik radikalisasi perempuan dalam gerakan yang menyatu
Gerakan pembebasan perempuan merupakan gerakan yang heterogen dengan berbagai teori dan pandangan politik yang berbeda tentang awal mula penindasan perempuan, Perbedaan pandangan dalam gerakan dan realita sosial membawa pada kesadaran untuk berpijak pada persilangan antara klas, ras, usia, etnis dan lain-lain. Perbedaan ini yang mendorong masing-masing organisasi feminis mengambil prioritas yang berbeda mengenai penindasan, contoh, kelompok persaudaraan, kelompok mahasiswa, kelompok di tempat kerja, kelompok feminis lesbian, kelompok perempuan tua, kelompok yang terdiri dari majalah feminis, koalisi aksi pada tuntutan yang spesifik dan lain-lain
Dapat dipahami bahwa kesadaran politik mulai berkembang pada pengalaman subyektif penindasan dan meluas pada pemahaman feminis yang lebih menyeluruh, proses ini menimbulkan kerancuan dalam gerakan perempuan. Gerakan yang heterogen juga diikuti oleh komitmen tiap kelompok untuk berotonomi-mandiri
Pada perkembangan selanjutnya, otonomi tiap kelompok telah menjadikan pembatasan antar satu kelompok dengan kelompok lain, menjadi lebih eksklusif. Masing-masing kelompok menganggap kelompoknya sebagai feminis ‘sejati’. Konsekuensinya kelompok-kelompok ini menjadi terfragmentasi
Bertambahnya otonomi organisasi menjadi penyebab bagi perpecahan dan fragmentasi-menjadi bagian dari strategi politik gerakan secara de facto. Semakin sulit untuk membangun aliansi yang menjembatani aksi bersama untuk tuntutan yang sama. Fragmentasi sebagai ‘bentuk tegas perbedaan’ telah mengubah kemampuan gerakan untuk merencanakan secara strategis bagaimana memenangkan pembebasan bagi seluruh kaum perempuan. Perdebatan mengenai taktik untuk menentukan prioritas perjuangan tersingkir dengan adanya ‘menegaskan perbedaan kita’ sebagai dasar feminisme. Rasa kebersamaan dalam penindasan perempuan menjadi terlihat sebagai relativisme dan kesan ‘konstektual’
Pada saat yang sama partisipasi perempuan dalam berbagai perjuangan meningkat-di serikat buruh, di tempat kerja, dalam gerakan sosial. Walaupun sering tidak dilihat sebagai memperkuat gerakan
Jaringan di dunia ketiga
Secara kontras, kaum perempuan di dunia ketiga memiliki pengalaman yang berbeda. Dalam banyak hal yang pertama kali terpengaruh oleh gerakan feminis adalah kaum perempuan dari golongan bangsawan dan terpelajar. Hal ini yang menyebabkan gerakan mengalami perkembangan yang sama dengan negara-negara kapitalis maju. Membangun kesadaran, diskusi dan tuntutan seputar kerja-kerja domestik, kekerasan, seksualitas, aborsi dan kegagalan dalam membangun organisasi yang menyatukan perempuan dan membangun gerakan yang memiliki akses kepada mayoritas perempuan
Gerakan perempuan internasional mempengaruhi kesadaran atas penindasan perempuan, sehingga banyak kelompok feminis yang kemudian terserap dalam proyek pemerintah
Namun di dunia ketiga, tahun 1980-an merupakan periode yang berat bagi perjuangan massa perempuan dan laki-laki dengan adanya krisis hutang dan program pengurangan subsidi dari IMF. Tuntutan utama kaum perempuan di dunia ketiga adalah tentang bagaimana mempertahankan keberlangsungan ekonomi bagi mereka dan keluarga:
- Pengorganisiran petani perempuan dan pedalaman menitikberatkan pada perjuangan mereka untuk kerja-kerja domestik dan kesejahteraan keluarga, seperti memperjuangkan hak atas tanah dan kebutuhan untuk mendapatkan penghasilan sendiri untuk mencukupi kebutuhan keluarga
- Mereka terus dikonfrontasikan dengan kepentingan untuk melawan represi politik, ham dan demokrasi. Di banyak negara belum berkembang kaum perempuan menjadi kekuatan utama dalam komite yang menangani tahanan politik dan orang hilang
- Jutaan perempuan di dunia ketiga dipaks untuk keluar dari lingkungan rumahtangga dan turut dalam perjuangan sosial, ekonomi dan politik. Gerakan kaum miskin kota yang memperjuangkan perumahan, pelayanan sosial dan harga yang tinggi juga mengikutsertakan perempuan seiring dengan meningkatnya angkatan kerja perempuan di pertanian dan industri-industri baru di dunia ketiga. Masuknya perempuan dalam kehidupan publik menimbulkan kontradiksi yang dinamis. Mayoritas perempuan masuk dalam kehidupan publik sebagai istri dan ibu rumahtangga, hanya sedikit yang berstatus pekerja. Dengan meninggalkan rumah dan lingkungan keluarga mereka melawan kekuatan tersentralisir dari pemerintahan yang represif. Dan justru mereka yang lebih cepat memahami kebutuhan adanya aliansi dan aksi yang terkoordinasi
Sejumlah jaringan kerja segera dibangun pada level nasional, daerah hingga antar benua seperti pertemuan antara feminis Amerika latin dan Caribia. Banyak konferensi sektor yang digelar di daerah-daerah. Dan organisasi perempuan pada level nasional mulai bermunculan di negara-negara dunia ketiga
Perbedaan-perbedaan teori
Pemahaman teori diantara kaum feminis tentang awal mula penindasan perempuan menjadi faktor kunci yang menegaskan perkembangan gerakan pembebasan perempuan dalam hal isu, tuntutan hingga bentuk organisasi
Dari sejak permulaan gelombang kedua sudah terdapat perbedaan pandangan mengenai awal mula penindasan perempuan dan hal ini berakibat pada perbedaan strategi dan bentuk organisasi
Kebingungan dalam membandingkan teori-teori dan strategi dalam gerakan meningkat seiring dengan perkembangan gerakan selama lebih dari 20 tahun dan pengaruhnya pada praktek dan perilaku sosial serta usaha kelas penguasa untuk menghancurkan gerakan tersebut
Analisa yang lebih materialis mengenai sejarah awal dan akar ekonomis dari penindasan perempuan penting untuk mengembangkan program yang lebih perspektif bagi keberhasilan pembebasan perempuan. Menghilangkan penjelasan ilmiah ini akan mengakibatkan kesalahan:
a. Kesalahan pertama, dilakukan oleh mereka yang mengklaim sebagai pengikut metode Marxist, yaitu menyangkal atau , penindasan perempuan atas jenis kelamin terjadi di sepanjang sejarah kelas masyarakat. Mereka melihat penindasan perempuan murni akibat eksploitasi terhadap kelas pekerja. Pandangan ini menitikberatkan pentingnya perjuangan yang hanya dilakukan oleh perempuan, atau kebanyakan, dalam kapasitas mereka sebagai pekerja upahan. Dikatakan bahwa perempuan hanya akan terbebaskan melalui revolusi sosialissehingga tidak diperlukan untuk mengorganisir perempuan untuk memperjuangkan tuntutan mereka. Penolakan untuk mengorganisir perempuan melawan penindasan atas mereka justru akan menguatkan pembagian dalam kelas pekerja, dan memperlambat kesadaran kelas perempuan yang mulai ‘memberontak’ atas status subordinasi mereka. Pandangan ini meruntuhkan perkembangan, pertumbuhan dan pengalaman gelombang kedua gerakan perempuan dan dengan kegagalan yang dialami perempuan untuk membuat langkah maju bagi pembebasan mereka di Eropa timur dan Uni Sovyet
b. Sebuah kesalahan simetris dilakukan oleh mereka yang berpendapat bahwa dominasi laki-laki atas perempuan-patriarkhy-sudah ada sebelum munculnya masyarakat kelas. Mereka berpegang pada pemisahan jenis kelamin di tenaga kerja. Dengan begitu penindasan ‘patriarkhy’ harus dijelaskan dengan alasan-alasannya dan bukan pada perkembangan kepemilikan pribadi dan masyarakat kelas. Mereka melihat adanya keterkaitan represivitas dengan ‘patriarkhy’ tapi tidak dalam hubungan kelas
Mereka yang mengembangkan analisa ini secara terpisah biasanya mengesampingkan fakta tentang peran perempuan dalam reproduksi atau membahasnya tersendiri. Mereka mengabaikan keunggulan dari kerjasama buruh, arti penting dari masyarakat manusia dan memberi sedikit tempat pada proses produksi dalam tiap tahap sejarah
Bahkan ada yang melompat jauh dengan teori corak produksi ‘patriarkal’ tanpa batas yang mengatakan tentang kontrol laki-laki atas alat reproduksi (perempuan). Mereka menjelaskan dengan tinjauan psikoanalisa yang bisa terjerumus pada idealisme yang ahistoris, pandangan yang menyebutkan akar penindasan berdasarkan biologi atau psikologi berarti keluar dari kerangka material hubungan sosial
Mereka ini yang disebut ‘feminis radikal’, yang memiliki kesadaran yang anti-Marxist dan memandang dirinya sebagai ‘feminis pembaharu Marxisme’. Mereka menolak pengorganisiran laki-laki dan perempuan untuk mengakhiri penindasan seksual dan penghisapan kelas. Mereka tidak melihat adanya kebutuhan untuk melakukan aliansi dalam perjuangan dari kelompok-kelompok tertindas
Kedua kelompok ini menyangkal bahwa perjuangan revolusioner yang dinamis bagi pembebasan perempuan sebagai bentuk dari perjuangan kelas. Tidak bisa melihat bahwa perjuangan untuk pembebasan perempuan bisa berhasil jika tetap berpijak pada pola hubungan kapitalis. Keduanya menolak kenyataan pentingnya membangun aliansi antara gerakan perempuan dan kekuatan sosial progresif lainnya
Mengatasi perpecahan
Perpecahan dalam gerakan pembebasan perempuan di negara-negara imperialis dalam dekade terakhir sedikit banyak dipengaruhi oleh berkembangnya teori mengenai ‘patriarkhi’ Didominasi oleh teori yang menegaskan otonomi sebagai terpisah dan menguatkan ‘perbedaan’ (antara laki-laki dan perempuan, antara kelompok-kelompok perempuan)
Kesalahan yang mendasar adalah adanya pandangan mengenai perbedaan ‘esensial’ (yang melekat dan tak terbatas) antara sifat psikologi dan karakter perilaku antara laki-laki dan perempuan. Dalam beberapa kasus, kaum feminis yang berpegang pada analisa ini juga berarti mengakui pikiran-pikaran tradisional borjuis dan mitos reaksioner tentang ‘kealamiahan’ perempuan dan laki-laki, yang diselipkan dalam jargon dan retorika pembebasan
Di pertengahan tahun 1970-an, berbagai perbedaan dan pertentangan yang mungkin sudah terpendam sejak awal memunculkan kerangka yang ‘esensial’ yaitu terjadinya pengkatagorian feminisme menjadi: feminisme sosialis, feminisme radikal, separatisme, feminisme budaya dan yang baru-baru ini muncul adalah ecofeminisme
Bagi kaum feminis ini, perjuangan untuk pembebasan perempuan lebih ditujukan pada bagaimana mengatasi ketidakseimbangan atas akses pada kehidupan ekonomi, politik dan budaya berdasarkan rasa berbagi kemanusiaan dan jalan lintas menuju kesetaraan. Hal ini berarti, mereka memandang feminisme sebagai sebuah ‘perayaan atas perbedaan’ berdasarkan pembagian yang fundamental atas identitas maskulin dan feminin. Dalam beberapa kasus hal ini ditegaskan dengan sifat esensial dari ‘keperempuanan’ seperti keibuan, penghasil keturunan, dan merawat. Dalam ecofeminisme bahkan terdapat pandangan bahwa bumi dilambangkan sebagai ‘ibu’, dewi, kesuburan dan berbagai ilusi yang berbau mistik lainnya. Bagaimanapun berbagai pandangan baik eksplisit maupun implisit merupakan reduksionisme baik dari segi biologis maupun psikologi
Berbagai perbedaan teori ini dalam implikasinya secara sosial dan politik telah mempertajam logika kuno tentang ‘kealamiahan’ superioritas laki-laki dan inferioritas mutlak kaum perempuan. Yang terjadi kemudian adalah pembenaran atas dasar keunikan perempuan dan ‘superioritas secara moral’ untuk membawa kehidupan baru ke dalam dunia. Hal ini kemudian membawa konsekuensi pada ‘maskulinitas’ dan ‘esensi’ dari kualitas kelaki-lakian adalah kekerasan. Secara umum hal ini dilakukan untuk menggambarkan bahwa segala sesuatu yang jahat, buruk dan destruktif disebabkan oleh laki-laki-bukan hanya perkosaan dan kekerasan tapi juga rasisme, perusakan lingkungan, perang, eksploitasi dll. Hal ini berarti secara biologis laki-laki adalah ‘malapetaka’ dan ‘mengangkat’ perempuan. Analisanya kemudian adalah bahwa perempuan akan merubah masyarakat dengan superioritas moralnya
Hal ini sesuai dengan teori sosial Darwin yang berkembang pada abad 19 yang mendukung hak ayah atau patria potestad dengan menenggelamkan posisi dan kekuatan dan aksi perempuan. Dukungan atas pandangan ini bukan hanya ‘Perang sex’ yang dianggap sebagai langkah maju mereka dalam mengatasi masalah individu, yang terlihat dalam gaya hidup atau secara individual mendidik kaum laki-laki sebagai aksi sosial dan politik. Atau kecenderungan mereka untuk melampiaskan rasa frustasi mereka kepada kaum laki-laki atas perubahan yang terjadi dalam institusi sosial, bukannya melihat bahwa merestrukturisasi masyarakat secara radikal juga termasuk dalam pembebasan perempuan-sebuah transformasi yang tidak dapat dicapai melalui proses akumulatif yang gradual. Frustrasi hanya akan memunculkan sikap sinis dan pesimis terhadap seluruh perubahan hubungan sosial serta kehilangan orientasi dan kebingungan pada langkah-langkah selanjutnya
Satu contoh yang menunjukkan kebingungan terlihat pada pandangan tentang perempuan-Bagaimana cara mengatasi pornografi, kekerasan atau menurunnya pandangan tentang perempuan. Sosok yang mewakili feminisme kebudayaan adalah Catherine MacKinnon dan Andrea Dworkin, mereka melihat bahwa analisa yang esensial tentang perbedaanlah yang melandasi tindakan kekerasan dan perkosaan. Bagi mereka berjalannya sensorship dan hukum anti-diskriminasi akan menghilangkan pandangan ini dan tentunya juga tindakan kekerasan. Bagaimanapun juga, agar undang-undang ini bisa diterima mereka harus bekerjasama dengan sayap kanan, lapisan anti-feminis yang memberi perhatian pada pandangan tentang ekspresi seksualitas, baik kata-kata maupun tindakan yang menunjukkan tindakan tidak bermoral dan cabul dan menjunjung nilai-nilai tradisional tentang keluarga dan agama
Tetapi sebuah pandangan berbeda dengan tindakan. Pembahasan pada pandangan tentang kekerasan sesungguhnya hanya bicara tentang gejalanya dan bukan pada penyebab dari kekerasan itu sendiri. Hal ini terdapat pada struktur hubungan sosial dan ekonomi dalam kelas masyarakat. Sensorship hanya membuat pandangan dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Tapi samasekali tidak memecahkan problem sosial. Lebih jauh lagi, persoalan pornografi bahkan lebih problematik karena pornografi dan erotis adalah satu kesatuan. Salah satu tujuan dari gelombang kedua adalah pembahasan masalah seksualitas dengan lebih terbuka dan bukannya menutup-nutupi dengan anggapan bahwa seksualitas adalah ‘kotor’ dan memalukan
Tapi selagi beberapa kaum feminis kebingungan dengan isu ini, tanpa ragu-ragu jenis undang-undang yang diajukan Mac Kinnon/Dworkin telah dijalankan. Di Canada undang-undang ini digunakan untuk menyatakan bahwa literatur lesbian dan gay sebagai hal yang cabul
Dari sejumlah analisis ‘esensial’ yang kurang lebih secara tegas membenarkan ‘Feminis Radikal’ dan ‘Feminis Kebudayaan’, serta beberapa variasi dari EcoFeminisme, terlihat mendukung analisa ‘Feminisme Sosialisme’. Bagi mereka yang menyebut diri sebagai ‘Feminis Sosialis’, teori sosialis merupakan tambahan untuk teori ‘patriarki’ menurut mereka dalam hubungannya dengan penindasan perempuan. Sehingga kelompok ‘Feminis Sosialis’ melihat penghisapan kelas terpisah atau hanya sedikit terkait dengan penindasan terhadap perempuan
Alhasil, kelompok ini tidak mampu mengelaborasikan pandangan materialis dan sejarah dari sifat dasar dan asal mula penindasan terhadap perempuan yang masuk dalam seluruh aspek relitas sosial, juga tidak mampu mengembangkan strategy yang menyatu dengan Feminisme Liberal. Penolakan mereka terhadap analisa Marxist tentang saling hubungan antara penghisapan kelas dan penindasan terhadap perempuan menjadikan mereka terjebak dalam perspektif reformis, seperti, pembebasan perempuan (destruksi tentang ‘patriarkhy’) dapat tercapai dalam masyarakat kelas. Lebih dalam lagi, bukan secara kebetulan bahwa kebanyakan ‘Feminis Sosialis’ secara politis beraliansi dengan kelompok Sosialis Demokrat lainnya atau Eurocommunism
Perkembangan dalam perjuangan kelas
Tentu saja perkembangan ideologis gerakan perempuan di negara-negara imperialis tidak terisolasi dari perkembangan sosial dan politik yang lebih luas. Mereka merupakan refleksi dalam gerakan perempuan dari keberhasilan relatif atas serangan ideologis kaum borjuis selama tahun 1980-an melawan gerakan sosialis, dan bahkan melawan ide-ide yang di bawa oleh pengikut liberalisme Keynesian.
Gelombang terakhir dari akademi yang menyebut teori-teori sebagai ‘matinya Marxisme’-postmodernisme dan poststrukturalisme-menyangkal sebuah teori yang menyeluruh, ilmiah dan paling mungkin atas evolusi sosial dan masyarakat serta menuduh teori tersebut sebagai akar dari totaliterisme. Bahkan, mereka menganggap bahwa teori-teori yang menjadi variasi dari pragmatisme yang ‘sepihak’, ‘sektoral’, atau ‘konstektual’ di pegang sebgai satu-satunya pilihan yang paling mungkin. Konsep yang idealis, ahistoris, tidak ilmiah dan secara politis reaksioner ini telah berpengaruh diantara intelektual kelas menengah yang condong ke kiri di negara-negara imperialis, terutama meeka yang punya kaitan dengan partai buruh. Mereka mampu memberikan rasionalisasi secara teoritis tentang peran mereka baru-baru ini yang turut menekan perlawanan sosial atas serangan kaum borjuis pada upah, pekerjaan dan tunjangan sosial
Kekuasaan borjuis telah menghancurkan gerakan kelas pekerja di tahun 1950 dan 1960-an, bahkan mendesak negara kapitalis untuk memberikan tunjangan sosial secara bertahap (kesehatan, pendidikan, pengangguran dan keamanan sosial). Usaha selanjutnya dari kelas penguasa untuk menghancurkan gerakan kelas pekerja adalah dengan meyakinkan mereka problema sosial tidak dapat deiselesaikan secara sosial pula(‘kolektiv’),juga bahwa masyarakat hanya bisa menjadi makmur apabila perusahaan swasta tidak dibatasi, adanya persaingan individu dan ‘pasar bebas’
Tampak jelas kegagalan birokrasi dan rencana penyatuan di Sovyet Bersatu dan Eropa Timur serta kegagalan kepemimpinan Gorbachev untuk memobilisasi pekerja Sovyet untuk menggantinya dengan Sosialis Demokratik telah mendorong lebih jaun ke arah ideologi terbelakang para intelektual kiri-reformis di negara-negara imperialis. Hal ini yang menyebabkan banyak kaum ‘feminis Sosialis’ memopertanyakan kembali relevansinya dengan sosialisme secara menyeluruh
Perubahan dalam gerakan perempuan baik secara ideologi, politik dan organisasi merupakan bagian dari perkembangan perjuangan kelas. Polarisasi gerakan hanya berkisar seputar kepentingan siapakah yang harus dipertahankan. Apakah kepentingan dari mayoritas kaum peempuan? Atau hanya kepentingan kelompok minoritas kelas penguasa dan kaum perempuan kelas menengah yang menduduki posisi istimewa dalam masyarakat kapitalis, dan siapakah yang telah diuntungkan secara tidak proporsional sebagai hasil dari kemajuan gerakan selama dua dekade terakhir?
Baru-baru ini pertanyaan tersebut semakin bergaung dalam gerakan yang memperjuangkan hak untuk melakukan aborsi di Amerika. Pengadilan Rowe vs Wade di tahun 1973 telah memperlihatkan hak konstitusional kaum perempuan terhadap aborsi yang dimenangkan dibawah tekanan mobilisasi massa. Tetapi daripada mengkampanyekan perjuangan di tahun 1973 sehingga mayoritas perempuan di Amerika melihat legalitas hak memilih sebagai pilihan praktis melalui ketersediaan dan kemampuan akses terhadap informasi, beberapa perempuan yang duduk di pusat organisasi tingkat nasional justru lebih memilih untuk menuntut ‘hak-hak’ yang abstrak dan tidak memperhatikan penyediaan fasilitas aborsi yang menjadi kebutuhan mayoritas perempuan. Tindakan mereka memudahkan kekuatan reaksioner untuk menhilangkan isi sesungguhnya dari hak-hak legal yang dituntut mayoritas kaum perempuan. Dalam empat tahun setelah pengadilan Roe vs Wade, amandemen Hyde menghilangkan aborsi dari program kesehatan nasional terbatas, tunjangan kesehatan, dan menjadikan aborsi sebagai pilihan yang hanya tersedia bagi perempuan yang mempunyai uang dan asuransi kesehatan pribadi
Sejak kekalahan itu, akses praktis terhadap hak untuk memilih kian dipojokkan, bahkan hingga hari ini hak yang paling legal itu ditolak. Hanya pada saat ini kaum perempuan memobilisasi secara nasional dan mengorganisir secara politis untuk mencoba membalikkan reaksi atas isu aborsi. Tetapi setelah bertahun-tahun semenjak kemenangan sayap kanan, baru saat ini pilihan untuk menyatukan perjuangan untuk menuntut hak atas aborsi, walaupun posisi nya lebih lemah dibanding tahun 1973
Preses differensiasi kelas yang terjadi dalam gerakan pembebasan perempuan juga terjadi dalam gelombang pertama feminisme. Hal ini merefleksikan kenyataan bahwa perjuangan pembebasan perempuan adalah bagian yang tidak terpisah dari perjuangan kelas, bahkan turut terpengaruh oleh perkembangannya

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.