Sejarah Internasional-I dan Internasional-II (Bagian III)

Politik kelas buruh (3)

Bab IV: Perang Dunia I dan keruntuhan Internasional-II 

Pada bulan oktober, 1912, Montenegro menyatakan perang terhadap Turki yang, tak lama kemudian, menjalar ke seluruh wilayah Balkan. Aroma mesiu sudah tercium sampai ke Eropa, dan hanya dibutuhkan sedikit saja percikan api untuk membuatnya meledaknya. Kantor pusat Internasional-II segera merancang rapat-rapat anti perang, dan mempersiapkan KLB ( Kongres Luar Biasa) sosialis Internasional-II yang akan di selenggarakan di Basel pada tanggal 24-25 November, 1912. 
Sungguh pun dipisahkan dalam jangka waktu yang kurang dari satu bulan, kongres tersebut dihadiri tidak kurang dari 555 delegasi dari 23 negeri. Kongres juga sekaligus bertujuan sebagai ajang 'unjuk gigi' solidaritas kelas buruh internasional dalam mengantisipasi ancaman perang yang akan segera menjalar. Pada hari kedua kongres, para delegasi secara bulat telah menandatangani manifesto yang telah dirancang kantor pusat. 

Manifesto Basel lah yang untuk pertama kalinya mengumandangkan bahwa perang Eropa, yang akan segera menjelang, pada hakikatnya berwatak imperialis. Manifesto Basel juga mengukuhkan posisi prinsipil perjuangan kelas buruh berkenaan dengan persoalan peperangan, yang telah di tetapkan oleh kongres Interrnasional-II di Stuttgart (1907) dan di copenhagen (1910). Manifesto Basel juga menggaris-bawahi peluang revolusi sosial yang dapat meletus menyusul pecahnya perang. Dengan mengambil contoh-contoh seperti pemberontakan Komune Paris, yang meletus menyusul perang Prancis-Prussia (Jerman) pdatahun 1871; juga revolusi 1905 di Rusia selama perang Rusia-Jepang. Manifesto tersebut antara lain juga menyatakan bahwa “Adalah suatu ketololan yang luar biasa, bila pemerintah-pemerintah yang berkuasa saat ini tidak menyadari luar biasanya ancaman perang dunia, yang dapat dengan mudah memicu revolusi kelas buruh” (Landauer, “European Socialism”, hal. 495.)

Lenin dan perwakilan-perwakilan kaum Bolshevik lainnya, pada kongres Basle ini, ‘sangat puas’ dengan resolusi tersebut. Lenin dan kawan-kawan menganggap manifesto Basel tersebut sebagai pernyataan penting tentang sikap kamu Marxis dalam menghadapi perang kaum imprealis. Sungguhpun demikian, Lenin sendiri menyadari bahwa kata-kata, pernyataan belaka, tidak lah boleh disamakan bobotnya dengan tindakan-tindakan konkrit/aksi. Lenin menyadari betul tentang kecenderungan patriotik (nasionalis) dan arus oportunisme yang sedang berkembang di dalam Internasional-II. Menurut Zinoviev, setelah selesai membaca manifesto Basel tersebut, Lenin berkata, “Mereka telah memberikan pada kita catatan-catatan yang menjanjikan, mari kita lihat seberapa besar usaha mereka untuk mencapainya."

Catatan yang menjanjikan tersebut diuji pada bulan Juli, 1914, ketika Austria dan Hungaria menyampaikan ultimatum kepada Serbia. Anggota-anggota Internasional-II langsung mananggapi krisis tersebut, dengan mengacu pada ketetapan pertama resolusi Stuttgart (1907) , yang berbunyi: “Bila sebuah perang nampaknyua akan meletus, adalah tugas kelas-kelas buruh … dan seterusnya … untuk mencurahkan dukungan… dengan mengerahkan segenap upaya dalam mencegah meletusnya perang". 

Pada tanggal 19 Juli, 1914, sementara pasukan Austria sedang bergerak di Belgrade, kantor pusat sosialis Internasional-II menggelar demonstrasi anti perang besar-besaran di Jerman, Austria, Italia, Perancis dan Belgia. Demonstrasi besar-besaran itu dipindah ke Wina pada 23 agustus, 1914, dan kemudian pindah ke Paris pada tanggal 9 Agustus. Dua hari kemudian, Partai Sosialis Jerman mengeluarkan Manifesto, yang mendesak agar pemerintah Jerman tak perlu ikut-ikutan dalam perang yang mengerikan tersebut. Partai Sosialis Jerman juga menggelar rapat-rapat akbar perdamaian, yang dihadiri jutaan kelas buruh, saat Jerman mengumumkan perang terhadap Rusia. Herman Muellle, yang telah menjanjikan bahwa partainya sama sekali tak akan menyokong peperangan, di kirim ke Paris. Sehari sebelumnya, Jean James, pimpinan sosialis Perancis, terbunuh oleh seorang nasionalis fanatik.

Di tengah hawa patriotitisme membela tanah air, yang menjalar ke seluruh penjuru negeri, pimpinan-pimpinan partai sosial-demokrasi nampaknya terlalu optimis bahwa aksi-aksi dan tekanan yang mereka berikan akan dapat memaksa pemerintah-pemerintahnya menunda rencana perang mereka. Sejarah menunjukan bahwa, sungguhpun aksi-aksi demonstrasi massal mendapatkan perhatian juga dari pemerintahan negeri-negeri imperialis, namun kepentingan yang lebih besar di antara kekuatan-kekuatan imperialis—untuk memperluas cakupan kekuasaannya—membuat mereka tak kuasa menahan diri. 

Setelah gagal mencegah meletusnya peperangan di antara kekuatan-kekuatan imprealis, kantor pusat dan anggota-anggota Internasional-II kemudian menimbang-nimbang saat dan cara yang paling tepat untuk mengemban tugas kedua yang di tetapkan oleh Resolusi Stuttgart: “Bila peperangan tersebut nampaknya tak dapat di cegah dengan cara apapun juga, maka upaya yang harus dilakukan ditujukan dalam rangka mendorong terjadinya percepatan untuk memanfaatkan krisis ekonomi dan politik (yang diciptakan oleh peperangan), dan untuk membangkitkan massa rakyat, agar mamacu kejatuhan kekuasaan kelas kapitalis.”

Itulah saat yang genting bagi persaudaraan internasionalisme kelas proletar untuk menguji dirinya sendiri. Menguji kapasitas anggota-anggota dan partai-partai yang tergabung di dalamnya, untuk mengatasi tekanan-tekanan kelas bojuis. Pada titik itulah kelas revolusionis sejati akan bisa dibedakan dengan kelas pengekor/pembebek, yang dapat dengan segera mengubah-ngubah prinsipnya sendiri. Seperti halnya dewasa ini—peperangan dan revolusi menyediakan batu penjuru—yang dapat membedakan kaum Marxis sejati.

Namun, kesatuan dan kebulatan tekad yang di pertunjukan oleh kaum sosialis dari berbagai negeri dalam mencegah meletusnya perang, dikacaukan oleh seruan-seruan untuk segera melakukan mobilisasi(wajib militer). Seruan-seruan wajib militer, dengan dalih menyelematkan “tanah air tercinta” ternyata disambut oleh mayoritas massa sdedemikian rupa sehingga begitu memukul solidaritas sosial Internasional.

Peperangan ternyata memecah Internasional-II menjadi tiga pengelompokan yang berbeda: kaum sayap-kanan, Kaum-tengah, kaum-kiri. Kecenderungan-kecenderungan yang telah menjalar dalam periode -periode sebelumnya, ternyata semakin dipercepat akibat peperangan. Dalam manifesto pertamanya, yang di keluarkan pada bulan Nopember, 1914, kaum Bolshevik menuding para penganjur nasionalisme—dengan dalih-dalih “patriotiknya”—hanya sekadar mencari-cari alibi bagi jalur oportunis yang telah mereka tempuh dan khotbahkan selama tahun-tahun terakhir ini.

“Mereka mengatakan bahwa keruntuhan Internasional-II adalah keruntuhan yang telah dipicu oleh oportunisme, yang tumbuh subur selama periode sejarah “masa tenang dan tanpa gejolak”—masa-masa yang kini telah lewat—namun, selama tahun-tahun terakhir ini, praktis telah mendominasi Internasional-II. Kaum oportunis memang telah lama mempersipkan landasan bagi keruntuhan tersebut, dengan menolak revolusi sosialis dan menggantikannya dengan reformasi borjuis. Dengan menentang perjuangan kelas—yang pada titik tertentu secara tak terhindarkan akan berubah menjadi perang saudara—dan dengan menganjurkan kolaborasi kelas, maupun dengan meyerukan nasionalisme borjuis—dengan topang/selubung ‘patriotisme’ membela tanah air. Atau dengan menolak kebenaran fundamental sosialisme yang telah sekian lama termaktubkan dalam manifesto Komunis): “Bahwa kelas buruh tak memiliki tanah air”. Dengan membatasi diri mereka pada cara pandang orang-orang murtad, dan bukanya menyadari keharusan untuk mengemban perang revolusiner yang sesungguhnya bagi kelas buruh sedunia, dengan melawan borjuasi di seluruh permukaan bumi ini dan, akhirnya, juga dengan terlalu mendewa-dewakan penggunaan parlementarisme borjuis sedemikian rupa, maka (mereka) melupakan bahwa bentuk-bentuk ilegal organisasi dan propaganda adalah sebuah keharusan di masa-masa krisis". (Lenin, Collected Works, Volume 21, hal. 32).

Tidaklah mengherankan bahwa mayoritas partai dan pimpinan-pimpinannya kemudian membuat manuver ‘banting setir’—peperangan yang, sebelumnya, bulan Juli, telah mereka nyatakan sebagai “agresi antar kekuatan-kekuatan imprealis”. Tidak sampai satu bulan kemudian, pada bulan Agustus, mereka menjilat ludah mereka sendiri, dengan mencanangkan perang sebagai upaya pembelaan bangsa secara umum.

Partai sosial-demokrasi Jerman menyerukan “pembelaan bangsa” dalam menghadapi Rusia. Seiiring sikap partai, anggota-anggota sosialis-demokrasi di parlemen (reichstag), memberikan suara mereka untuk mendukung pernyataan perang negeri Jerman pada tanggal 4 Agustus, 1914 . Baru saja, pada malam sebelumnya, tanggal 3 Agustus, pada rapat fraksi di parlemen, di adakan pemungutan suara yang hasilnya 14 banding 110. Hanya sekali saja suara yang menentang posisi partai, yakni suara yang menolak dukungan terhadap perang. Termasuk di antaranya adalah Haase, pimpinan kaum-tengah, dan Liebknecht, pimpinan kaum sayap-kiri. Betapapun, sehari kemudian, pada pertemuan 4 Agustus di Reichstag, Haase menyampaikan pernyataan yang sama sekali bertolak belakang. Haase menggambarkan perang sebagai sebuah “fakta suram yang tak bisa di elakan” dan, dengan demikian, “menolak untuk meninggalkan tanah air” dalam ancaman mara-bahaya dan teror yang di akibatkan negeri Belgia, yang saat itu sedang diserang dan hampir diduduki Jerman.

Di Belgia sendiri, kaum sosialis dan pimpinan-pimpinan serikat buruh berhimpun dan meyatakan dukungan mereka pada raja Albert. Bahkan Vandervelde sendiri, Ketua Sekretariat Pusat Sosialis Internasional, menyatakan kesediaannya menjadi menteri dalam kabinet perang raja Albert. Di Prancis, bukan saja kaum sosialis, bahkan kaum sindikalis—yang secara teoritik menolak segala bentuk pemerintahan—kali ini bangkit mendukung pemerintah Perancis. Rupanya, sebuah “serikat suci” yang meliputi segenap kelompok maupun partai untuk membela “la patrie” (tanah air) telah dikumandangkan.

Di Inggris, pada tanggal 1 sampai dengan 2 Agustus, 1914, memang diselenggarakan rapat-rapat akbar untuk “menghentikan peperangan”, yang diprakarsai oleh kaum sosialis dan partai Buruh. Namun, hanya beberapa hari kemudian, Partai Buruh dan Kongres Serikat-serikat Buruh memberikan dukungan penuhnya kepada pemerintahan perang. Memang, masih ada juga kecenderungan pasifis—pasif, menolak, segala bentuk kekerasan—yang di kampanyekan oleh Ramsay Mac Donald ( yang menanggalkan dari jabatannya sebagai ketua Partai Buruh), ataupun juga oleh Partai Buruh Independen, bersama-sama dengan kelompok-kelompok kecil kaum sosialis, yang meneruskan upaya-upaya menentang perang. Namun, jumlahnya memang sedikit. Hal-hal yang sama juga terjadi di Austria dan Hungaria.

Dengan cara seperti itulah partai-partai yang tadinya sangat berbobot tersebut jatuh ke dalam oportunisme—lewat dalih patriotisme. Melepaskan prinsip perjuangan kelas demi pembelaan tanah air dan persatuan nasional. Tunduk pada para penguasa/tuan-tuan kapitalis dan menghianati sosialisme. Tindakan-tindakan yang memalukan itu manandai keruntuhan Internasional-II, tidak hanya secara organisasional—karena peraturan peperangan melarang berfungsinya Kantor pusat sosialis Internasional—namun terutama dalam makna politik yang menentukan. Dengan demikian, Internasional-II telah lalai menjalankan tugas-tugas yang telah di perjanjikannya pada trahun 1912, yang harus dipertanggung-jawabkan oleh para pemimpinya di hadapan kelas proletar. Penghianatan yang oportunistik atas sosialisme demikian menodai dan mendiskreditkan Internasional-II, sehingga citra dan kekuatannya tak pernah bisa dipulihkan lagi (seperti masa sebelum perang).

Sikap yang selalu berubah-rubah dari pimpinan-pimpinan kaum tangah, sepereti Haase dan Kautsky, dalam hal persoalan perang, adalah sebuah ciri yang manandai watak mereka yang tidak teguh (sepanjang karir politik mereka). Lenin menggambarkan kaum tengah sebagai orang-orang yang dibimbangkan oleh pilihan untuk menjadi chauvinis-sosial atau atau internasional sejati. Pada bulan April, 1917, Lenin menuliskan:
“Kelas tengah” senantiasa bersumpah dan mengikrarkan bahwa bahwa diri mereka adalah Marxis dan internasionalis sejati, bahwa mereka selalu cinta damai dan tak ragu-ragu untuk melakukan segala ‘tekanan’ terhadap pemerintah lewat 'tuntutan-tuntutan mereka ‘agar pemerintah memastikan kelangsungan perdamaian yang di kehendaki rakyat’. Bahwa, dalam kecintaan mereka terhadap perdamaian, mereka menentang segala bentuk aneksasi (pencaplokan wilayah/negeri tertentu), dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya… singkatnya, kaum tengah senantiasa berorientasi pada persatuan, kaum tengah senantiasa menentang segala pertengkaran dan perpecahan…
Inti dari persoalannya adalah bahwa kaum tengah tak yakin pada keharusan jalan revolusioner yang sepenuh hati, tak pernah juga menyerukan revolusi dengan sungguh-sungguh. Sehingga, dalam rangka mengelakkan tanggung jawab tersebut, mereka berlindung di balik jargon-jargon ultra-kiri yang sudah usang.
Kaum ‘tengah’ terdiri dari orang-orang yang terjangkit penyangkit legalis, sangat menyandarkan diri pada kecenderungan-kecenderungan parlementarian. Orang-orang yang sudah mulai terbiasa dengan tugas dan posisi-posisi yang 'empuk '. Secara ekonomi dan historis, mereka bukanlah orang-orang yang terpisah/tersendiri dari gerakan kelas buruh. Namun, dalam proses transisi dari tahapan yang sudah lampau—tahapan antara tahun 1871sampai dengan tahun 1914—ke tahapan yang baru, mereka hanya ‘mandeg’ atau jalan di tempat saja. Sebagaimana yang kita ketahui, dalam tahapan antara tahun 1871-1914, adalah saat ketika pergerakan masih dalam tahap merangkak, tumbuh dan bertahan dalam kerja-kerja organisasional yang masih seadanya. Namun, dengan pecahnya pertarungan antara kekuatan imperialis dalam perang dunia pertama, sampailah kita pada tahapan baru, yang seharusnya merupakan pintu gerbang bagi era revolusi sosial (Lenin, Colleceted Works, Volume 24, hal. 76-77).

Namun, betapapun, perlu dicatat bahwa tidak semua partai sosialis mendukung peperangan, mengabaikan amanat yang di serukan oleh resolusi Basle. Ada dua pengecualian yang mencolok di Eropa. Di Rusia, perwakilan-perwakilan social-demokratik, yakni kaum Bolshevik dan Menshevik, keduanya menolak peperangan. Di Serbia, invasi (penyerbuan) Austria dan Hungaria, membuat sukarnya menolak teori pembelaan diri. Namun orang-orang Sosial-Demokrat Serbia (tidak seperti rekan-rekannya di Prancis dan Belgia), dengan tegas menolak segala dukungan terhadap rejim borjuasi. Mereka bersikukuh dengan menegaskan bahwa invasi (penyerbuan) Prancis dan Belgia, tidaklah cukup untuk di jadikan alasan yang syah untuk meninggalkan prinsip-prinsip kaum sosialis. 

Dalam pada itu, Lenin menggambarkan Internasionalisme sejati sebagai berikut: 
“Watak imternasionalisme dicirikan dengan penolakan total atas kecenderungan chauvinis-sosial ataupun sentrisme (yang di anut kaum tengah). Juga perjuangan revolusioner yang tak gentar melawan pemerintahan imperialis (asing) ataupun imperialis (borjuasi negerinya sendiri). Prinsipnya adalah ‘lawan kita yang utama sesungguhnya ada di rumah kita sendiri’. Para internasionalis sejati mengemban perlawanan yang keras terhadap ungkapan-ungkapan manis kaum pasifis sosial—dalam makna ‘sosialis di mulut’ namun pasifis borjuis dalam perbuatan; mereka adalah orang-orang yang memimpikan penciptaan perdamaian tanpa menyingkirkan/menghapuskan dominasi kapital. Mereka, sekali lagi, adalah orang-orang yang menentang segala dalih yang dikemukakan oleh orang-orang oportunis, dengan segala alasan-alasannya, berkilah bahwa pencanangan revolusi sosialis proletarian, pada saat peperangan tersebut adalah tidak tepat, karena saatnya belum tiba atau, singkatnya, mereka mengeluarkan kesimpulan sepihak bahwa revolusi tidak dapat dilancarkan pada masa-masa perang” (Lenin, Collected Works, hal. 77-78).


Lenin menunjuk Karl Liebknecht sebagai contoh, yang di penjarakan oleh pemerintah karena, dari tribun parlemen, secara terbuka, menyerukan kepada kelas buruh maupun prajurit prajurit—sebagai representasi arus revolusioner yang sedang melanda Jerman—untuk berbalik dan mengarahkan moncong senjatanya kepada pemerintah mereka sendiri. Lenin menambahkan, sambil mengutip kata-kata tajam Rosa Luxemburg, bahwa kaum sosial-demokrasi yang selebihnya tak ubahnya bagai ‘mayat-mayat kaku yang menjijikan’. Liebknecht adalah anggota sekaligus pimpinan “kelompok separatis”.

Kaum internasionalis yang paling konsisten dan berpandangan paling jauh ke depan adalah kaum Bolshevik yang di pimpin oleh Lenin. Namun, anggota-anggota Bolshevik, yang diburu dan banyak berada di pengasingan, menghadapi kesukaran/kendala dan tekanan-tekanan selama krisis peperangan tersebut. Komite Organisasi Luar Negeri, yang berfungsi sebagai kantor pusat perwakilan Bolshevik di luar Rusia, bermarkas di Paris. Komite itu pun ternyata pecah. Dua anggota komite mendaftarkan diri sebagai anggota tentara Prancis, sementara selebihnya mengundurkan diri. Jaringan yang seharusnya terjalin antara Komite sentral Bolshevik di Rusia—antara lain Zinoviev—dengan angota-anggota kantor komite sentral di luar negeri, terputus.

Ketika Lenin dan Zinoviev berangkat dari Galicia ke Swiss pada permulaan perang, mereka mengangkut semua yang masih tertinggal di sekretariat Komite Sentral Bolshevik di luar negeri.

Lenin bekerja keras untuk membangun kembali, menghidupkan lagi Sosial Demokrat (baca: organ sentral Partai). Juga memperbarui kontak, jaringan-jaringan, seksi-seksi Bolshevik yang tercerai berai, mengupayakan penyelundupan literatur-literatur partai ke dalam Rusia, dan menyerap informasi perkembangan terakhir di Rusia. Di atas segalanya, Lenin tak jemu-jemunya melancarkan polemik melawan kaum nasionalis/’patriotis’ maupun kaum tengah, tidak hanya di Rusia, tapi juga di tingkatan internasional. Secara khusus Lenin memacu kebijakan Bolshevik agar menolak keikutsertaan dalam perang.

Berikut ini adalah butir-butir pokok program yang di kedepankan oleh Lenin, pada bulan oktober, 1914 (dalam tulisannya, tentang perang dan sosial demokrasi di Rusia. Lihat Lenin, Collected Works, Volume 21).
1. Peperangan pada hakikatnya adalah beradunya kekuatan imperialis dalam tapal batas masing-masing. Pertahanan/pembelaan tanah air tak memiliki relevansi dalam agresi yang saling bertarung tersebut di atas;
2. Adalah kewajiban dari segenap proletariat yang berkesadaran kelas, untuk membela dan mempertahankan solidaritas kelasnya, juga untuk membela semangat internasionalisme, maupun keteguhan sosialisnya melawan chauvinime yang tak terkendalikan dari klik-klik ‘patriotik’ borjuis di seluruh dunia. Bila kelas buruh yang berkesadaran kelas pada akhirnya ‘angkat tangan’ dari kewajiban tersebut, maka itu berarti bahwa mereka telah mencampakkan aspirasi demokrasi dan kebebasan. Singkatnya, mencampakkan aspirasi sosialis mereka sendiri; 
3. Kaum oporutnis telah menghianati prinsip-prinsip sosialisme. Untuk itu, perlawanan tanpa ampun harus ditujukan kepada mereka. Kaum oportunis tersebut adalah ‘penghianat-penghianat keji yang paling membahayakan’. Kami memandang tidak ada lagi penyatuan ataupun perdamaian dengan mereka, sebagaimana yang diusulkan oleh kaum tengah;
4. Internasional yang lama (baca: Internasional-II) telah gugur. Dan kita hanya perlu melakukan upacara penguburan sekadarnya. Yang terpenting adalah, kita harus belajar dari sebab-sebab keruntuhannya, dan segera bangkit untuk meletakkan pondasi/syarat-syarat bagi kelahiran internasional yang baru;
5. Musuh utama kita sesungguhnya ada di dalam rumah kita sendiri (baca: didalam negeri). Tugas mendesak dan strtegis kita sesungguhnya adalah mengembalikan perang imperialis menjadi perang kelas buruh bagi penggulingan yang revolusioner atas kapitalisme. Satu-satunya jalan bagi sosialisme dan perdamaian sejati adalah justru lewat akasi massa revolusioner. 
Sungguhpun Trotsky tidak lagi menjadi anggota Bolshevik, namun ia tetap menerima cara pandang di atas. Trotsky masih harus mengatasi sisa-sisa kecenderungan untuk ‘rujukan’ atau ‘berbaik-baikan kembali dengan kaum tengah Rusia, maupun untuk memformulasikan posisinya setegas dan setajam Lenin. Betapapun, ia masih memiliki cara pandang internasionalis dan masih berpegang kepadanya.

Dalam otobiografinya, Trotsky mengingatkan tentang pemungutan suara pada tanggal 14 Agustus, 1914, sebagai berikut: “Hari itu membekas sebagai salah satu kenangan yang paling tragis dalam hidupku” (Aku kira Lenin juga mengalami hal yang sama). Kemudian pada tanggal 9 agustus, 1914, Trotsky kembali menulis di buku hariannya, “Jelaslah sudah bahwa persoalan yang menimpa kita, di sini, bukan lah sekadar kekeliruan atau kesalahan akibat tindakan beberapa kaum oportunis, bukannya sekadar pernyataan yang keliru di atas tribun parlemen, ataupun sekadar pemungutan suara bagi penetapan anggaran belanja partai Sosial-Demokrasi. Bukan pula dikarenakan terobosan coba-coba yang dilakukan dengan militerisme Prancis, di mana beberapa pimpinan membelot menjadi petualang. Tidak. Persoalannya adalah tentang keruntuhan Internasional-II, pada saat tanggung jawab yang sepenuh-penuhnya justru sangat di butuhkan. Saat-saat ini, keseluruhan kerja-kerja terdahulu kita masuk dalam persiapan” (Trotsky, My Life, hal. 238).

"Pada tanggal 11 Agustus 1914,” tulis Trotsky, “Aku manyatakan hal ini: hanya kebangkitan pergerakan yang berbobot, setara dengan kondisi awal peperangan, yang akan memberikan syarat-syarat bagi penegakkan Internasional yang baru. Tahun-tahun ke muka akan menjadi saksi bagi periode revolusi social” (Trotsky, My Life).

Sementara kegagalan internasional telah di ketahui secara umum oleh perwakilan-perwakilan dari kecenderungan yang berbeda-beda tersebut, namun mereka tidak memiliki kesepakatan tentang apa yang seharusnya mereka kerjakan. Kaum oportunis berkayikanan bahwa—setelah peperangan usai, dan tanah-air merka menang perang—maka Internasional akan kembali memutar roda kegiatannya. Sungguh pun konstalasi seluruh dunia telah tergeser, bahkan mengalami perubahan yang sangat besar akibat guncangan peperangan, dalam sudut pandang mereka, tidak ada hal-hal pokok yang benar-benar berubah, dan mereka sendiri untuk kembali ke cara-cara maupun sarana-sarana yang lama, ketika perdamaian sudah pulih.

Kaum tengah, yang menyesuaikan diri dengan kaum oportunis, berusaha untuk menutup-nutupi keruntuhan Internasional-II. Mereka bimbang, dan menolak untuk memutuskan hubungan sama sekali dengan kaum ‘patriot’ (nasionalis). Mereka terilusi dengan kemungkinan untuk membenahi Internasional yang lama, dan tak bersedia menanggung konsekwensi untuk membangun Internasional dengan landasan yang sama sekali baru.

Dalam berkilah tentang kegagalan Internasional-II, Kautsky kemudian berdalih bahwa, “Internasional-II adalah instrumen saat perdamaian, dan bukannya saat peperangan”. Stalin menyatakan hal yang sama ketika ia mencampakan Komunis Internasional (Komintern) pada tahun 1943. Bagi Marxis sejati, betapapun, Internasional-II sangat dibutuhkan keterlibatannya, bukan pada periode tenang dan tanpa gejolak, tapi justru pada periode ketika antagonisme sosial maupun nasional mencapai titik puncaknya, justru ketika perang saudara, atau ketika kekuatan-kekuatan imperialis atau kolonial saling berperang.

Atas andil mereka yang brengsek, kaum internasionalis sejati tentulah menuntut kaum oportunis dengan kebijakan ‘patriotik’ (nasionalis) nya, yang mengakibatkan keruntuhan Internasional-II. Kaum internasionalis sejati tak akan berkompromi dalam program maupun organisasi agen-agen busuk borjuasi tersebut.

Selama tahun-tahun pertama peperangan, tiga pengelompokan tersebut (kiri, tengah, kanan) melakukan upaya-upaya untuk menyatukan bagian-bagian yang memisahkan diri dari social-demokrasi, terutama sehubungan dengan cara pandang dan posisi mereka secara umum. Partai-partai sosialis Italia, Swiss, dan Amerika, yang mewakili negeri-negeri netral, berusaha untuk menyerukan sebuah konfrensi bersama, namun tanpa hasil. Pertemuan kelompok-kelompok Skandinavia, pada Januari, 1915, untuk meraih titik temu, juga berakhir sia-sia.

Konfrensi perempuan sosialis yang diselenggarakan pada tanggal 26 Maret sampai dengan tanggal 28 Maret, 1915 di Berne, Swiss, adalah konferensi internasional kaum sosialis pertama, yang berhasi diselenggarakan setelah pecahnya perang. Kaum perempuan Bolshevik-Rusia, bekerja sama dengan Clara Zetkin, seorang pimpinan sosial-demokrasi Jerman, mengambil inisiatif untuk menyelenggarkan konfrensi tersebut. Dalam konferensi tersebut, terjadi dua kubu perdebatan besar: mayoritas suara—yang disponsori oleh Zetkin—mengutuk peperangan sebagai ajang kekuatan-kekuatan imperialis, dan menyerukan agar kelas buruh ‘memperjuangkan perdamaian’. Akan tetapi tidak ada kesimpulan final dari kubu ini; sementara, minoritas, yang dikedepankan oleh kaum Bolshevik, menekankan bahwa mayoritas partai sosialis “telah menjadi penghianat, yang menukar sosialisme dengan nasionalisme”. Sehingga mereka menyerukan agar kelas buruh berjuang untuk menumbangkan kapitalisme, dan menegakkan perdamaian lewat sosialisme.

Konferensi anti-perang kaum sosialis yang penting juga adalah yang diselenggarakan pada bulan September, 1915, di zimmerwald, Swiss. Konferensi ini di hadiri oleh 42 delegasi, Trotsky termasuk di antaranya. Berikut ini adalah cuplikan tentang konfrensi tersebut:
Hari-hari penyelengaraan konferensi tersebut, yakni antara tanggal 5 sampai dengan tanggal 8 september, 1915, begitu dipenuhi dengan perdebatan yang keras. Lenin—mewakili sayap revolusioner—menghadapai sayap pasifis, yang merupakan mayoritas dalam delegasi. Masing-masing pihak memaklumi kesulitan untuk menghasilkan manifesto bersama, yang rancangannya aku buat. Akhirnya, redaksional manifesto yang di hasilkan ternyata jauh dari yang diharapkan oleh masing-masing pihak. Namun, betapapun, merupakan satu langkah maju ke muka. Dalam konfrensi itu Lenin berada di pihak yang sangat kiri. Ia berada di posisi minoritas dalam banyak perdebatan di kongres. Bahkan Lenin sendiri tak mendapatkan dukungan mayoritas dari sayap kiri tuan rumah, penyelenggara kongres (baca: kaum kiri di Zimmerwald, Swiss). Aku sendiri—walaupun secara formal tidak gabung dengannya—namun punya banyak kesamaan dalam persoalan-persoalan pokok. Betapapun, harus dicamkan bahwa di konfrensi inilah Lenin memperkuat ‘kuda-kuda’ bagi kebangkitan kembali Internasional di masa yang akan datang. Di sebuah dusun pegunungan Swiss, ia meletakkan batu-penjuru bagi Internasional yang revolusioner.” (Trotsky, My Life, hal. 249-250).


Konfrensi berikutnya, yang masih membahas persoalan yang sama, di selenggarakan pada bulan April tahun berikutnya (1916) di kota Kienthal, masih di Swiss. Konfrensi tersebut menetapkan resolusi yang mengecam pasifisme dan sepak terjang kantor Pusat Sosialis Internasional. Konfrensi mencatat satu langkah maju berkenaan dengan pematokan/garis batas yang tegas antara arus/kecendrungan yang berbeda-beda perihal peperangan. Perjuangan ideologi dan politik yang di emban oleh Lenin, trotsky dan Luxemburg, maupun kawan-kawan sejawatnya, tercatat memiliki makna historis yang penting. Dalam tahun-tahun pertama perdebatan, mereka nampaknya terdesak, terisolasi tanpa harapan, menggerutu dan mengecam di pojok forum, menyayangkan perihal alur perkembangan ataupun rangkaian perjalanan yang di pilih/di tempuh oleh sebagian terbesar orang-orang di muka bumi.

Betapapun, mereka bertahan dengan tegar atas gagasan-gagasan yang mereka perjuangkan. Mereka juga optimis dengan kapasitas daya-penyembuhan-diri yang dimiliki oleh kekuatan-kekuatan anti-kapitalis, maupun dengan prospek revolusi sosial. Kekuatan mereka yang teguh, berakar dari wawasan teoritik perihal arah perkembangan kapitalisme, yang telah disediakan oleh Marxisme. Dan juga dari pengalaman praktek mereka saat bergabung dengan kekuatan (dan kapasitas) perlawanan proletariat, yang disingkapkan (walaupun hanya sebentar) oelh revolusi 1905 dan pertarungan kelas lainnya.

Semangat mereka dicerminkan dengan sangat mengesankan dalam penutupan buku Trotsky yang berjudul “The War and The Interntional”: “Kalaupun peperangan ternyata berkembang sedemikian rupa, melampaui jangkauan yang dapat dikontrol oleh Internasional-II, maka konsekwensi langsungnya pun akan berbalik-menghantam di luar kemampuan kontrol kelas borjuis di seluruh dunia. Kami, kaum sosialis revolusioner, tak menghendaki peperangan, namun kami tidak jeri atau gentar atasnya. Kami tak menyerah dan berputus asa atas fakta keruntuhan Internasional-II. Sejarah senantiasa meletakkannya kembali pada posisi yang sebenarnya. Era revolusioner akan menumbuhkan kembali benih-benih berupa bentuk-bentuk baru organisasi, yang bermunculan dari “sumber-sumber mata air” (yang tak pernah kering) sosialisme proletariat. Bentuk-bentuk baru perjuangan akan setara dengan tugas-tugas baru yang tak kalah besarnya, dan kami akan tetap menjaga kejernihan pikiran dan orientasi yang tak terpadamkan. Kami merasakan betul kekuatan-kekuatan kreatif hasil bersama kami, yang memberikan panduan bagi masa depan, dan yang sudah hadir bersama kami, bahkan lebih banyak dari yang nampak di permukaan. Esok akan ditunjukkan bahwa kita lebih besar dari hari ini. Dan esok lusa, jutaan kawan akan bangkit, tegak bersama di bawah panji-panji kita. Jutaan kawan buruh—bahkan setelah 67 tahun sejak kelahiran manifesto komunis--akan bangkit berjuang. Seberat apapun tekanan yang akan menimpanya. Mereka tidak akan kehilangan apa-apa, selain mata-rantai yang membelenggunya (Trotsky, “The War and The Interntional”, hal. 76-77).

Terdorong oleh gagasan-gagasan tersebut, kaum sosialis revolusioner, ke depannya, dari tahun 1914 hingga tahun 1917, memilkul perjuangan internasionalisme. Sejarah memulihkan kembali keharuman nama baik mereka, yakni setelah terjadinya revolusi Oktober, 1917. Kejayaan itulah yang menghantarkan syarat-syarat bagi penegakkan kembali Internasional-III.

Tentang Penulis Pamflet ini:

George Novack (1906-1992) menjadi seorang Marxis di awal 1930-an. Novack bergabung dengan Communist League of America—yang beraliran Trotskyis. Liga tersebut merupakan pendahulu Socialist Workers Party (SWP). Ia menjadi anggota Komite Nasional SWP dari tahun 1940 sampai dengan tahun 1972. Novack juga menghasilkan berbagai tulisan dengan tema tentang filsafat dan sejarah.


Dari PRM

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.