Wiji Tukul : Sastra untuk Kemerdekaan Kami

Catatan Redaksi Tanah Air : Tak pelak dunia sastrapun dijadikan medan yang menegangkan oleh penguasa ketika ekspresi seorang seniman mengandung kekuatan yang, katakanlah dapat menerbitkan kesewenang-wenangan sang penguasa. Sementara itu, sang seniman
menapaki lingkungan sekitarnya sebagai medan acuan buah karyanya, yakni berusaha memasukkan proses produksi karyanya kedalam proses sosial setempat. Sebuah langkah vital untuk menghadapi tirani! Von der Borch dalam tulisan ini memberikan gambaran lingkungan Wiji Thukul sebagaimana dia menapaki perkembangan diri dan pertumbuhan puisinya. 

Inilah puisi jalanan, puisi ngamen, 
puisi yang tidak butuh legitimasi 
dari dewan kesenian, 

WTW, 7/9/87 

Wiji Thukul Wijaya lahir di Sala 24 Agustus 1963 sebagai anak tukang becak. Keluarganya katolik, dan diapun masuk SD katolik. Selepas SMP, selama kurang dari dua tahun dia belajar di sekolah Menengah Karawitan Indonesia, sampai putus sekolah pada tahun 1980. 

Di Solo, Thukul dibesarkan di sebuah kampung miskin yang sebagian  besar penghuninya hidup dari menarik becak. Ketika itu bis kota mulai menguasai jalanan, mengakibatkan penderitaan yang berkepanjangan bagi para tukang becak yang penghasilannya semakin merosot. Berapapun tambahan penghasilan dari anak istri bias sangat penting artinya. Rentenirpun telah menjadi pengunjung tetap yang kedatanganya selalu  menggelisahkan para penghuni kampong. 

Semenjak putus sekolah, Thukul mencari nafkahnya sendiri melalui berbagai pekerjaan tidak tetap. Dia pernah mejadi tukang Koran, tukang semir mebel di suatu perusahaan kecil di kampung, maupun buruh harian. Selain itu dia pun membaca puisi secara ngamen keluar masuk kampung, kadang-kadang diiringi musik gamelan. Keterlibatan Thukul dalam teater dan kesenian di Sala dan Jawa Tengah sangatlah luas. Dia pernah mengambil bagian dalam pembacaan puisi di Monumen Pers Surakarta, Pusat Kesenian Jawa Tengah, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Yayasan Hatta di Yogyakarta serta radio PTPN. Sajak-sajaknya secara teratur muncul diberbagai majalah dan surat kabar, dan pada tahun 1984 kumpulan sajaknya berjudul Puisi Pelo diterbitkan dalam bentuk stensilan oleh Taman Budaya Surakarta. Stensilan berikutnya Darman dan lain-lain telah pula diterbitkan, selain sajak- 
sajaknya pun muncul dalam Antalogi 4 Penyair Solo. Kumpulan terbaru Thukul berjudul Suara. Dia memproduksi sendiri bulan Juli 1987 dalam bentuk fotokopi yang dikomentarinya : " Aku sedang belajar untuk tidak tergantung pada lembaga-lembaga kesenian resmi." 

Kegiatan Thukul dalam teater dan berbagai bentuk seni panggung telah melibatkannya dalam kelompok topeng pada Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI), serta kelompok teater kampong bernama " Sarang Teater Jagat ". Teater Jagat dibentuk tahun 1978 oleh Cempe Wisesa Laluwarta telah aktif sampai awal 1987. Kegiatannya meliputi ngamen, pementasan di kampong yang melibatkan penduduk setempat , serta pertukaran teater antar kelompok di berbagai kampong lainnya. 

Dalam 1987 Thukul terlibat dalam suatu kegiatan yang sama sekali baru baginya. Setiap minggu pagi pada awal tahun itu dia lewatkan dengan melukis bersama dua puluh anak-anak kampungnya, serta sebagai pencerita ulung. Tentang itu dia menjelaskan :" bila mereka lelah, saya bercerita ". Juli tahun itu pula dia ditawari pekerjaan sebagai penyair tamu/ mondok (poet in residence ) di Cirebon serta pesisir utara Jawa Barat dengan tugas merekam kehidupan sehari-hari rakyat perkampungan nelayan di sana. Tawaran ini diterimanya dengan antusias. Selain itu ada pula tawaran lain (yang realisasinya tergantung ketersediaan dana )untuk menyelenggarakan loka-karya teater bagi anak-anak kampong di Sukabumi, Jawa Barat, bersama dua orang seniman dari Yogya. 

Thukul terbilang luar biasa dalam hal latar belakang kampungnya, dan ketiadaan pendidikan formal ternyata sama sekali tidak menghalangi keterlibatanya yang luas dalam berbagai kegiatan kesenian setempat. Kepercayaan diri serta prestasi yang dicapainya selama ini antara lain berkat persahabatannya dengan Halim HD, budayawan Sala yang pertama mendorongnya untuk membacakan sajak-sajaknya di muka umum, serta terus memerus melibatkannya dalam kegiatan umum seniman Jawa Tengah. Akan tetapi tingkat keterlibatannya ini pun dipengaruhi oleh sikap pribadinya terhadap pendidikan dan pengetahuan . Kita dapat merasakan sikapnya tersebut melalui komentarnya sebagai berikut: 

" Di desa tempat saya bekerja , gadis gadisnya rata-rata takut sekali kepada "anak anak sekolah". Rasa rendah diri mereka kuat sekali. Tapi di kotapun, di kampung saya juga, hal itu menjadi kondisi umum yang merata. Memang penyakit yang sedang menggerogoti dunia saat ini "kelumpuhan mentalitas ". Dalam istilah Paulo Fraire mungkin kelumpuhan mentalitas itulah yang dinamakan sebagai "silence culture" , kebudayaan bisu. Dan obatnya adalah penyadaran. 

Banyak yang terkejut maupun terhibur oleh pemakaian tradisi ngamen sebagai sarana Thukul membacakan sajak-sajaknya dimuka umum . Walaupun baginya yang penting dalam hal ini (selain sebagai sumber penghasilan yang penting) sangatlah jelas: 

"Aku keluar masuk kampong -ngamen baca puisi dari pintu ke pintu . Dari rumah ke rumah dari jam lima sore sampai jam sembilan malam. Sendirian . "panggungnya" bukan di 'pentas' tapi di halaman masyarakat umum '. 
(jadi lebih majemuk . Bukan cuma kaum peminat sastra seni saja!) Dari ngamen puisi itu aku mendapat input dan kritik langsung dari masyarakat. Bahkan ada yang mengajak berdialog… Dari ngamen puisi itu juga aku mendapat informasi yang tidak mungkin kudapatkan dari siaran resmi radio, Koran maupun televisi, yang kumaksudkan adalah 'protes-protes terpendam' ketidakpuasan -ketidakpuasan masyarakat bawah kepada kebijaksanaan -kebijaksanaan pemerintah' yang jarang diungkapkan tapi ada. 

September 1987, Thukul mengambil langkah yang tidak pernah ia tempuh sebelumnya dengan menghadiri acara tahunan Pertemuan Penyair Indonesia di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta sama sekali tanpa maksud untuk mengambil bagian secara resmi , melainkan "Tujuan saya datang ke pertemuan itu adalah untuk 'mengacau' dan bicara:inilah puisi jalanan. Puisi namen." Untuk acara ini Thukul dan Halim HD menyiapkan selebaran berisi lima sajak dalam bahasa Indonesia (Nyanyian Abang Becak, Sajak untuk D, Peringatan dan Sajak Suara) dan satu berbahasa Jawa Geguritan Iki Mung Pengin Kandha (sajak ini hanya ingin bercerita), lengkap dengan pengantar terhadap sajak Thukul terhadap Halim. Selebaran selebaran ini yang Thukul bagi-bagikan (dalam gaya yang mengingatkan kita pada Rendra) sewaktu pembacaan, diberinya judul yang provokatip " Sastra Ngamen -Sastra Gugat". Lengkap dengan ilustrasi gambar badan terbelenggu dengan kedua tangan berusaha membebaskan diri dari rantai . Pernyataan ini mengandung dua tantangan. Pertama penggunaan istilah "Sastra Ngamen "telah memberikan pengakuan artistik pada karya Thukul serta seniman lain yang pilihan estetikanya tidak sejalan dengan ataupun tidak sesuai dengan kaidah umum yang dianut para seniman lain. Pernyataan ini secara terang terangan menggugat mereka yang berpendapat bahwa kata-kata 'sastra ' dan 'ngamen' (ataupun makna yang diwakilkannya tidaklah mungkin untuk disejajarkan. Tantangan kedua -lebih tegas dan 
lugas, yaitu gugatan politiknya kepada masyarakat luas. 

Bekerja ditingkat paling bawah selalu merupakan titik dimana teori dan praktek kreatip Thukul bertemu. Namun lebih dari sekedar pendekatan, pengalaman hidupnya sendiri bersama kaum miskin kota memang telah mewarnai seluruh karyanya, baik dalam segi estetik maupun isinya . Seluruh karyanya mengandung keaslian yang tidak dapat disangkal, serta ekspresi pribadi keprihatinan sosial yang dalam, yang semata-mata lahir dari pengalaman hidupnya sendiri. 

Keprihatinan Thukul yang secara polos dia ungkapkan dalam karya-karyanya meliputi seluruh sisi kehidupan dan pengalaman mereka yan hidup di pinggiran. Ketimpangan sosial, apatisme yang diraksukan dan ketidak-tahuan yang mencekik kaum miskin dan renta, pemberangusan suara buruh yang menuntut perubahan sosial, penindasan sewenang wenang terhadap para pekerja dan aktivis sektor informal, sensor serta perpecahan akibat politik parpol merupakan persoalan-persoalan utama yang senantiasa merebut perhatiannya. Catatan 27.5.86 mengungkapkan penindasan hak hak buruh pekerja murah, telah dia tarik dari pengalaman pribadinya sebagai penjual koran. Penindasan terhadap pekerja sektor informal pedagang kaki lima, tukang becak serta pelacur yang hidupnya tidak pernah lepas dari perjuangan menghadapi arus masyarakat industri yang semakin materialistik, merupakan fokus dari puisinya seperti Sajak setumbu nasi sepanci sayur dan Nggladag Slamet Riyadi. Keganasan yang inheren dalam masyarakat industri sebagaimana dirasakan oleh anggota terlemah, merupakan tema puisinya Sajak anak-anak kita dan Kota ini milik kalian. Catatan hari ini melukiskan- melalui baris-baris pendek, kesulitan penduduk kampung serta pernyataan pribadi Thukul akan peran yang dimainkan oleh kesenian dalam situasi demikian. Sebuah perkembangan ide menarik dalam puisinya dapat dijumpai dalam Kepada Wiyono yang membahas secara meluas dan terinci ekonomi dan psikologi kehidupan kampung. Mundurnya budaya tradisional (terutama budayanya kaum miskin perkotaan serta penduduk pedesaan di Indonesia saat ini) dalam proses ' modernisasi' merupakan fokus dari Pasar malam Sriwedari. 

Konsisten dengan gayanya yang khas, kajian politik Thukul terungkap dalam sajak-sajaknya melalui uraian atas berbagai hubungan dan pengalaman pribadinya. Pengertian yang abstrak mengenai ketidak-adilan struktural dan institusional telah menemukan bentuknya melalui pendapatnya tentang realitas sehari-hari. Setiap bait sajaknya spesifik, kuat berakar pada lokasi dan saat tertentu dari pengalaman setempat. 

Karya Thukul tidak pernah lepas hingga menjadi puisi propaganda yang anonim . Puisinya sama sekali tidak memohon belas kasihan maupun uraian bertele-tele mengenai kaum miskin yang terhormat, dua hal yang biasanya mengurangi nilai puisi atau pun tulisan para seniman dari kelas sosial yang lebih tinggi, meskipun sebenarnya merekapun simpati pada masalah sosial serta ingin pula menyatakan solidaritasnya terhadap golongan yang mereka tulis. Pokok keprihatinan yang diungkapkan dalam karya Thukul tidak pernah anonim , serta tidak 
pernah berkembang menjadi 'isu'. Dia selalu memberi nama, wajah , serta perasaan terhadap kemiskinan, ketertindasan serta diskriminasi sosial, hal mana hanya mungkin dilakukan oleh orang yang menulis dari dalam saja, tanpa kecendrungan menempatkan ketidak-adilan pada situasi yang acak ataupun menganggap penderitaan manusia semata-mata sebagai akibat saja dari ketidak sempurnaan perseorangan. 

Dalam suatu surat terbuka kepada Emha Ainun Najib , Juli 1986, Thukul mengungkapkan kengeriannya atas ketidak adiilan dan penindasan yang sengaja dilakukan dalam masyarakat Indonesia : 

Aku jadi semakin yakin bahwa budaya bisu betul betul sudah meraksuk kedalam kehidupan bermasyarakat kita ! Ini gawat. Komunikasi direduksi jadi kebuntetan. Dialog seperti sengaja dihindarkan . Aku merasa kita ini dibodohkan. Dan dibutakan! Aku kini betul betul 
merasa bahwa kita ini betul-betul sedang dininabobokan. Oleh siapa ? Oleh masyarakat kita sendiri dan oleh perangkat-perangkat sistem yang ada dalam masyarakat kita sendiri ! Dan itu berlangsung dengan amat mekanis sekali. Persis mesin. Begitulah yang kurasakan mas…" 

Sebelum kejadian yang membuatnya menulis surat tersebut, penjelesannya dalam hal hubungan antara penguasa dan mereka yang secara formal tidak berdaya dalam masyarakat sempat tercermin dalam puisinya : Pulanglah nang dan kota ini milik kalian misalnya, yang 
secara spesifik membahas hal tersebut . Akan tetapi, baru pada akhir 1986 dan 1987 lah puisinya memperlihatkan perkembangan mencolok dari tema yang secara provokatip dia nyatakan dalam suratnya kepada Emha tersebut. Perkembangan ini terwujud baik dalam puisinya maupun dalam perhatiannya yang semakin meningkat terhadap puisi ngamen serta 
keterlibatanya yang mencolok dalam berbagai kegiatan budaya Jawa. 


Contoh yang paling menarik dari perkembangan ini adalah sajaknya yang berjudul Peringatan yang muncul dalam dua versi. Versi 1986 berbunyi sebagai berikut : 

Jika rakyat pergi 
Ketika penguasa pidato 
Kita harus hati-hati 
Barangkali mereka putus asa 

Kalau rakyat berbisik-bisik 
Ketika berbicara 

Penguasa harus waspada 

Dan belajar mendengar 
Dan bila rakyat tidak berani mengeluh 
Iitu artinya sudah gawat 
Bila rakyat patuh patuh 
Penguasa harus mencari sebabnya 
Bila omongan penguasa tak ada yang membantah 
Kebenaran pasti terancam 



Bila usul ditolak 
Kritik dilarang 
Dengan dalih menggangu keamanan 
Berarti penguasa sedang ketakutan 
Kekerasan pasti digunakan 
Maka berhati-hatilah 
(1986) 

Sedangkan versi 1987-nya berbunyi sebagai berikut: 

Jika rakyat pergi 
Kita penguasa berpidato 
Kita harus hati hati 
Barangkali mereka putus asa 

Kalau rakyat sembunyi 
Dan berbisik bisik 
Ketika membicarakan masalahnya sendiri 
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar 

Dan bila rakyat tidak berani mengeluh 
Itu artinya sudah gawat 
Dan bila omongan penguasa 

Tidak boleh dibantah 

Kebenaran pasti terancam 

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang 
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan 
Dituduh subversi dan menggangu keamanan 
Maka hanya satu kata : lawan ! 


Kedua versi Peringatan tersebut secara spesifik membahas hubungan antar penguasa dan yang tidak berkuasa. Versi yang terakhir, tidak hanya lebih explisit dari yang sebelumnya, melainkan juga membela suatu pendekatan yang sama sekali lain terhadap persoalan yang  diuraikan. Patut dicatat bahwa sementara baris terakhir dari versi pertama berbunyi :"maka berhati-hatilah" maka pada versi berikutnya terbaca :" maka hanya ada satu kata : lawan!" Dalam versi kedua ini tersirat beberapa perubahan persepsi yang nyata terhadap hubungan- 
hubungan yang dibahasnya. 

Yang pertama berisi penerimaannya bulat-bulat terhadap sikap rakyat yang pasip :"bila ada omongan penguasa tak ada yang membantah/kebenaran pasti terancam" sedangkan yang kedua berbunyi :"dan bila omongan penguasa /tidak boleh dibantah/kebenaran terancam" Thukul menghapus eufemisme yang digunakan para penguasa sebagaimana tertulis dalam versi pertamanya "dengan dalih menggangu keamanan" serta menggantikannya dalam versi kedua dengan ungkapan yang lebih kuat : "dituduh subversi". Ini menunjukkan pendekatan yang sama sekali berbeda. 

Ketidak puasan serta ketidak-percayaan pada sistem politik dan sistem partai dikemukakan dalam puisinya pasca Pemilu 1987: Aku lebih suka dagelan, yang menyoroti perpecahan diantara kaum miskin sebagai akibat dari politik partai, dimana tidak satupun pilihan akan membawa perubahan bagi mereka. Akan tetapi, terlihat pula keyakinan baru pada perlawanan dan oposisi, sebagaimana ditulisnya dalam sajak Suara dan Syair kemerdekaan. 

Kebutuhan untuk secara giat membangkitkan kesadaran kritis kaum miskin serta melawan ketakutan dan apatisme, telah menjadi tema tetap dari sajak-sajaknya yang terakhir. Dua contoh, masing masing Untuk D dimana dia menyatakan kekecewaanya terhadap budaya banyak cakap sedikit kerja serta Sajak yang mengungkapkan keyakinan barunya akan 
peran yang dimainkna sebagai penyair dalam menentang budaya bisu disekitarnya. 

Beberapa sajak Thukul secara spesifik menyatakan keprihatinannya terhadap hubungan antara seni dan kepedulian sosial. Apa yang berharga dari puisiku mungkin merupakan penjelajahannya yang paling intensip terhadap hubungan ini. Judulnya merupakan merupakan bait yang diulang-ulang sepanjang sajak, terselip di antara baris-baris yang melukiskan betapa dahsyatnya penindasan dan ketidak adilan yang dialami keluarga berserta para tetangga mereka. Ayolah Warsini membahas hal yang sama, akan tetapi mendekatinya dari sudut yang lain, serta dalam nada berhubungan dengan dengan kegiatan kelompok teater kampungnya , menyoroti ketidak-yakinan dan ketakutan yang harus diatasi padar anggota kelompok untuk ikut terlibat : 

Warsini !Warsini ! 
Apa kamu sudah pulang kerja Warsini 
Apa kamu tak letih seharian berdiri di pabrik 
Ini sudah malam Warsini 
Apa celana dan kutangmu digeledah lagi 
Karena majikanmu curiga kamu membawa bungkusan moto 


Atau apakah kamu mampir di salon lagi 

Berapa utangmu minggu ini 
Apa kamu bingung hendak membagi gaji 

Ayolah warsini 
Kawan-kawan sudah datang 
Kita sudah berkumpul lagi disini 
Kita akan latihan drama lagi 
Ayolah Warsini 

Kamu nanti biar jadi mbok bodong 
Si Joko biar menjadi rentenirnya 
Jangan malu warsini 
Jangan takut dikatakan kemayu 
Kamu tak perlu minder dengan pekerjaanmu 
Biar kamu Cuma buruh 
Dan sd saja tak tamat 

Ayolah Warsini 
Mas Yanto juga tak sekolah Warsini 
Iiapun Cuma tukan plintur 
Mami juga tak sekolah 
Kerjanya mbordir sapu tangan di rumah 
Wahyuni juga tidak sekolah 
Bapaknya tak kuat bayar uang pangkal sma 
Partini penjahit pakaian jadi 
Di perusahaan milik tante Lili 
Kita sama sama tak sekolah Warsini 

Ayolah warsini 
Ini sudah malam Warsini 
Ini malam minggu warsini 
Kami sudah menunggu di sini 

Surakarta 9/1986 


Sajak ini tidak hanya memberikan gambaran mendalam dari bekerjanya kelompok teater tersebut, melainkan juga latar belakang para anggotanya, serta mengungkapkan dukungan dan kesetia-kawanan antar anggotanya. Keyakinan Thukul akan efek pembebasan dari mendorong perkembangan serta ekspresi pribadi serta kreativitas kolektip di antara rakyat miskin juga terasa dalam sajak tersebut. Keyakinan ini pulalah yang membawanya pada kegiatan bersama anak-anak sekampung seperti diuraikan sebelumnya. 

Sementara pengalaman setempat merupakan titik awal dari setiap pernyataan kritik sosialnya, sajak-sajaknya memiliki kemampuan untuk melibatkan secara sangat spontan, hati dan pikiran para peminat yang dipilihnya. Hal ini telah menjadi basis dalam menentukan pilihan estetiknya. Sajaknya disusun untuk pertunjukan kampung, seringkali berbentuk deklamasi dengan kalimat-kalimat pendek serta uraian yang langsung dan persis. Sering pula sebagimana hanya Ayolah Warsini, terdapat pengulangan baris-baris yang penting dalam bentuk syair. Hal ini sengaja dia pilih, dan ternyata sangat membantuk serta memberikan kekuatan luar biasa pada sajak-sajaknya ketika dibacakan pada pertunjukan. 

Gaya bahasa puisi Thukul pun merupakan segi yang berhubungan dengan kesadaran para peminatnya, bagi siapa dia menulis. Beberapa dari sajaknya yang terkenal dia tulis dalam bahasa campuran Jawa-Indonesia yang secara instrinsik menarik , sebab merupakan suatu gejala delam proses menuju suatu kebudayaan 'nasional' Indonesia. Akan tetapi, latar belakang penggunaan bahasa campuran dalam sajak-sajak Thukul lebih karena merupakan bahasa sehari-hari. Hal ini menyebabkan sajaknya lebih mudah dicerna oleh penduduk kampung, serta lebih meningkatkan kemampuannya menyampaikan pikiran serta perasaan. 

Pada hakikatnya, pilihan-pilihan estetik inilah yang memberi sajak Thukul ajakan tertentu bagi para peminatnya. Pilihan itu dilakukannya berdasarkan keyakinan bahwa bentuk keindahan haruslah sesuai dengan kenyataan sosial dimana suatu karya dilahirkan. Sepanjang praktek kreatipnya Thukul senantiasa dibimbing oleh keyakinan ini, sebagaimana terungkap melalui debat ' sastra kontekstual' oleh Arief Budiman dan lain-lain, bahwa tidak ada kriteria keindahan yang universal bagi seluruh karya seni. Nilai keindahan selalu ditentukan oleh pengalaman sosial yang bersangkutan. 

Pilihan estetik yang demikian, pada hakikatnya merupakan pilihan politik yang dapat menggemakan sikap politik para seniman pelakunya. Pada dasarnya ini pulalah sebabnya Thukul berkali-kali harus berhadapan dengan polisi setempat serta penguasa daerah. Pak Lurah telah melarang membaca puisi dikampungnya sendiri. Salah satu kejadian ini telah dia singgung dalam surat terbukanya kepada Emha Ainun Najib: 

Aku jadi ingat ketika diinterogasi di kantor polisi oleh intel bersepatu. Aku diinterogasi oleh pak intel gara-gara puisi yang kubacakan di panggung 17 Agustus di kampungku. Pak intel menyarankan kepadaku supaya aku tidak bikin puisi yang 'tidak-tidak'. Kalau ada apa-apa kasihan orang tuamu, katanya lagi dengan lebih meyakinkan. "mbok kalau bikin puisi itu yang baik-baik saja mas…" 

Thukul menyebut sebagian dari sajak-sajaknya sebagai 'hits' karena selalu disambut hangat oleh para penggemarnya ketika dibacakan keras-keras. Dua diantaranya adalah Darman, yang bercerita pengalaman pahit suatu keluarga desa yang mengadu nasib di kota , dan abang becak yang membahas kehidupan keluarganya sendiri serta berbagai pengaruh kebijakan pemerintah dan kenaikan harga-harga kebutuhan pokok pada perekonomian mereka. Deskripsinya tentang sajak-sajak tersebut sebagai 'hits' menunjukan bagaimana cara Thukul sendiri mengukur 'keberhasilan' artistik. Lebih dari itu, hal ini telah semakin memperkuat niatnya untuk bekerja dengan gaya tertentu diantara rakyat miskin dan awam, diluar jangkauan pranata resmi kebudayaan.

Catatan Perempuan Poso:
Tulisan ini merupakan tulisan R.Von der Borch dengan judul asli : Puisi Wiji Thukul Wijaya, diterbitkan oleh Tanah Air, No 5, edisi Desember 1990. Selain terinspirasi oleh puisi-puisi untuk kemerdekaan rakyat marjinal yang tertindas, Perempuan Poso mengutip langsung tulisan ini sebagai bagian dari gerakan melawan LUPA.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.