Menyayangi Lingkungan Hidup V

Akhir-akhir ini, krisis ekologis tergambarkan dari pemberontakan anti-kapitalis--pada taraf yang bahkan mungkin tak mampu dipahami Marx. Tapi, secara keseluruhan, cara pandang kita mengenai gambaran ekologi dalam revolusi sosialis jarang lebih radikal dari  yang dicita-citakan Marx--dengan gagasannya mengakhiri hubungan antagonis antara kota dengan desa, dan usahanya mengatasi jurang metabolik melalui produksi berkelanjutan yang didasarkan pada masyarakat komunal para produsen bebas. William Morris mencoba mengembangkan gagasan-gagasannya untuk menata kembali hubungan-hubungan antara kota dan desa dalam bentuk yang baru, namun tak satu pun dari gagasannya, baik disadarai atau tidak, yang sesuai dengan semangat Marx.

Alasan kita sama dengan apa yang Marx lakukan pada masanya, yakni membatasi analisis kontradiksi ekologis pada teori krisis ekonomi tertentu. Teori krisis ekonomi bisa saja disanjung-sanjung, bahkan sampai didewa-dewakan. Mari aku berikan contohnya. Untuk jangka waktu yang lama, para ekonom Marxis dari berbagai bidang telah mengembangkan cara menjelaskan kecenderungan imperialistik kapitalisme--yakni kecenderungan pusat sistem mengekploitasi daerah pinggiran (periphery)--dengan menunjukkan beberapa teori-teori tertentu krisis ekonomi. Masalah dari semua perspektif tersebut, menurutku, adalah bahwa mereka melupakan: imperialisme bukanlah produk krisis ekonomi ini atau krisis ekonomi itu (siginifikansinya juga tidak terletak pada bahwa imperialisme menanggung fenomena krisis ekonomi), tetapi imperialisme, secara lebih mendasar, sebagaimana seperti kemuculannya dalam sejarah, adalah merupakan upaya untuk mencari keuntungan itu sendiri. Dengan  kata lain, imperialisme adalah produk penting kapitalisme sebagai kekuatan yang mendunia dan, sampai pada tahap yang dihadapi Marx pada zamannya, imperialisme tentu saja senada. Tetapi upaya untuk melihat keseluruhan kenyataan imperialisme melalui sudut pandang krisis ekonomi malah semakin mengaburkan sifat dasarnya.

Kasus degradasi ekologis yang sedang kita hadapi sekarang (bukan saja melulu tentang kapitalisme) tapi juga merupakan aturan main utama, bukan aturan main kedua, kapitalisme. Degradasi ekologis, seperti halnya imperialisme, bagi kapitalisme sama mendasarnya dengan usaha mengeruk keuntungan (yang sangat bergantung pada perluasannya). Permasalahan lingkungan hidup juga sebaiknya tidak dipandang melalui sudut pandang ekonomis yang menggiring pemahaman kita pada kesimpulan bahwa krisis lingkungan hidup memicu krisis ekonomi kapitalisme. seperti yang dijelaskan Rosa Luxemburg, burung-burung berkicau mengalami kepunahan bukan karena mereka adalah bagian dari kapitalisme, atau merupakan syarat-syarat produksinya, tetapi karena habitat mereka rusak disebabkan proses ekspansi sistem yang terus menerus. Luxemburg tidak menghubungkan kerusakkan ini dengan fenomena krisis ekonomi, namun dia tidak berhenti melawan upaya pengrusakkan terhadap apa yang ia sebut sebagai “mahluk-mahluk lemah tak berdaya.” (1)

Tak diragukan lagi, Luxemberg yakin bahwa perekonomian akan lebih teratur di bawah sistem sosialisme, yang dapat mengurangi kerusakan alam. Namun, perubahan yang ia bela tidak ia letakan dalam masalah ekonomi, walaupun ia setia dengan materialisme. Kekuatan terbesar analisa Marxis tidak terletak terutama pada teori krisis ekonomi, tidak juga dalam analisa-analisa perjuangan kelas seperti yang kita kenal, melainkan terletak pada konsepsi materialis dalam melihat sejarah (baik) manusia maupun alam--yang dipahami sebagai proses saling ketergantungan yang tak pernah berakhir, lain tidak. Pemahaman tersebut berarti telah berhasil mengatasi penyederhanaan yang memisahkan antara ilmu pengetahuan fisika-alam dengan ilmu sosial, yang selama ini merupakan produk-produk intelektual (terasing)  masyarakat bourjuis.

Sebagai kesimpulan, aku akan menoleh pada kematian Stephen Jay Gould, salah seorang pemikir besar evolusi setelah Darwin. Gould adalah seorang Marxis, yang mempelajari Marxisme--seperti yang dikatakannya dalam karya utamanya, The Structure of Evolutionary Theory (struktur teori evolusioner)--dari “dengkul ayahnya”. Seorang materialis, pemikir dialektik yang sadar, pengritik reifikasi (2) dan reduksionisme, akhli teori evolusi, analis permasalahan lingkungan hidup, eksponen yang menjelaskan tentang banyaknya saling-ketergantungan manusia-alam, dan seorang pembela kebebasan manusia. Dia, dalam pandangan saya, dengan pengertian yang penuh makna, adalah seorang Marxis ekologi.


***


Keterangan:

1. Rosa Luxemburg, Letters (Atlantic Highlands, NJ.: Humanities Press, 1993), 202-03 (Luxemburg to Sonja Liebknecht, May 2, 1917).

2. Orang yang berpikir atau memperlakukan sesuatu yang abstrak seolah-olah ada sebagai obyek yang nyata dan bisa dikenali/disentuh/aktual.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.